JawaPos Radar | Iklan Jitu

Tidak Cukup Hanya Peningkatan Ekonomi

Oleh Al Araf, Direktur Imparsial

05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
Tidak Cukup Hanya Peningkatan Ekonomi
Ilustrasi: Trans-Papua yang dibangun sejak beberapa tahun terkahir. (Cenderawasih Pos/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Pertama, saya menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban dalam peristiwa di Papua. Tentu segala bentuk kekerasan seharusnya dihindari.

Karena itu, saya turut prihatin atas peristiwa tersebut. Yang kedua, inilah bukti bahwa negara, khususnya pemerintah, harus memandang realitas konflik Papua sebagai sesuatu yang nyata. Sebab, sering kali pemerintah melihat konflik di Papua itu intensitasnya rendah dan kecil.

Padahal, menurut kami, Papua itu satu wilayah yang sifat konfliknya tidak menentu. Kadang kala ia bisa besar, kadang ia kecil. Menjadi suatu kondisi yang tidak menentu. Sehingga sulit untuk menyatakan konflik di Papua itu low intensity atau high intensity.

Yang bisa dikatakan, konflik di Papua adalah suatu konflik yang sifatnya tidak menentu. Kadang ia bisa naik, kadang bisa turun. Dalam suatu kondisi konflik yang tidak menentu, ada satu pertanyaan. Mengapa konflik yang tidak menentu itu terjadi? Kadang ada situasi tenang, kadang terjadi lagi, kemudian tenang, dan terjadi lagi. Fluktuatif.

Sebabnya, ada akar konflik yang belum terjawab untuk penyelesaiannya. Sehingga konflik terus berlangsung dalam situasi dan kondisi yang tidak menentu. Untuk konflik yang tidak menentu itu, jauh lebih repot pola penanganannya. Apalagi jika kemudian negara salah dalam memandang dan melihat konflik tersebut.

Selama ini, baik di era pemerintahan Presiden Megawati, SBY, maupun Jokowi, pola pendekatan penanganan konflik di Papua hanya berbasis economic base approach. Jadi, hanya berfokus pada wilayah ekonomi dan pembangunan. Seolah-olah dengan mengembangkan pembangunan, percepatan pembangunan, konflik selesai. Padahal, realitas konflik di Papua itu, akar konfliknya bukan hanya persoalan ekonomi. Kalau mengacu berbagai hasil riset, ada empat akar konflik di Papua.

Yang pertama adalah kesenjangan ekonomi, ketidakadilan ekonomi. Kedua, klaim historis ataupun kontroversi historis Papua masuk Indonesia. Di mana sebagian masyarakat Papua menganggap masuknya Indonesia ke Papua melalui pemaksaan ataupun aneksasi. Ketiga, persoalan pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan oleh negara sehingga terus menimbulkan tuntutan-tuntutan berulang. Keempat, tentu faktor marginalisasi.

Selain empat akar konflik itu, juga masalah trust atau kepercayaan di antara negara dengan masyarakat Papua. Ada persoalan trust di situ. Yang menyebabkan negara, bukan hanya di era pemerintahan Presiden Jokowi, melihat konflik di Papua hanya dalam aspek ekonominya. Sementara itu, tiga aspek lain belum tersentuh. Misalnya, bagaimana menyelesaikan persoalan HAM masa lalu, bagaimana mengatasi persoalan marginalisasi, bagaimana persoalan historis tersebut diselesaikan.

Karena itu, realitas konflik terus terjadi dan berlangsung. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sesungguhnya sudah berhasil membangun pola penanganan konflik yang jauh lebih progresif. Hanya, Gus Dur malah jatuh. Misalnya, pola pendekatannya tidak hanya ekonomi, tetapi recognize terhadap masyarakat Papua. Meminta maaf atas operasi militer yang berlangsung lama di Papua, mengubah nama provinsi menjadi Papua, dan sebagainya.

Dengan pendekatan kultural itu, masyarakat Papua merasa bahwa Abdurrahman Wahid punya kepedulian dan benar-benar menghormati mereka. Setelah Abdurrahman Wahid, pendekatan yang dilakukan cenderung developmentalisme. Pola pendekatannya ekonomi, ekonomi, dan ekonomi. Empat akar persoalan itu tidak diselesaikan. Itulah yang kemudian membuat situasi konflik di Papua terus berlangsung tidak menentu.

Kondisi tersebut harus dibarengi dengan upaya lain. Ada banyak cara. Juga, Indonesia sudah pernah punya pengalaman berhasil. Salah satu contohnya, menyelesaikan konflik di Aceh melalui ruang negosiasi dan dialog.

Di Papua, sudah saatnya pemerintah membuka ruang dialog. Tidak hanya cukup dengan peningkatan ekonomi. Peningkatan ekonomi itu penting. Namun, tidak cukup hanya dengan itu untuk menyelesaikan konflik yang selama ini terjadi di Papua. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (syn/c11/oni)

Alur Cerita Berita

Darmin: Kakak Saya Lari, lalu Ditembak Mati 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
Ketua MPR Kecam Peristiwa Pembantaian di Papua 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
16 Ambulans Siaga di Lanud Hasanuddin 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
9 Dievakuasi, 20 Orang Selamat dari KKB 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
Wawancara dengan Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
Cerita JA, Selamat dari KKB Karena Pura-pura Mati 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
Tidak Cukup Hanya Peningkatan Ekonomi 05 Desember 2018, 11:51:44 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini