JawaPos Radar

Di Depan SPN, MPR Tegaskan Pentingnya Satu Suara di Pemilu

08/11/2018, 21:49 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Hidayat Nur Wahid
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat menjadi pemateri di acara Sosialisasi Empat Pilar yang di gelar di Banten. (MPR)
Share this

JawaPos.com - Di hadapan ratusan anggota Serikat Pekerja Nasional (SPN), Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, sosialisasi empat pilar yang dilakukan oleh MPR merupakan amanat dari UU. No. 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.

“Ini Sosialisasi Empat Pilar yang kedua dengan SPN, dan ini merupakan amanat undang-undang,” ujarnya ketika mengawali pemaparan sosialisasi, di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, (8/11).

Harapannya, lewat sosilisasi empat pilar ini, MPR telah mematuhi aturan hukum yang ada dan masyarakat menjadi makin paham dengan tugas dan fungsi lembaga tertinggi di negara ini. 

"Sehingga rakyat menjadi percaya dan paham dengan empat pilar,” tutur Wakil Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Gontor itu.

Dalam melakukan sosialisasi, disebutkan HNW, MPR menggunakan berbagai metode, seperti lewat cerdas cermat, outbond, focus group discussion, training of trainer, legal drafting, debat konstitusi, seni dan budaya, serta metode lainnya.

Diungkapkan, dirinya merasa kagum saat lomba cerdas cermat Empat Pilar yang peserta datang dari kalangan pelajar SMA. Mereka bisa hafal UUD NKRI Tahun 1945, istilahnya dari A sampai Z. “Luar biasa, semangatnya,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan, HNW sosialisasi yang dilakukan itu bekerja sama dengan berbagai pihak seperti guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah, perguruan tinggi, TNI, Polri, pekerja atau buruh, dan komponen masyarakat lainnya.

“Dari semua yang dilakukan menunjukan posisi sosialisasi sangat jelas legal hukumnya,” ucap pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu.

Dalam sosialisasi yang juga dihadiri oleh Ketua SPN Banten, Ahmad Syaukani, HNW memaparkan bagaimana proses lahirnya Pancasila. Proses itu dimulai dari pidato Bung Karno dalam Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, kemudian Pancasila 22 Juni 1945, hingga 18 Agustus 1945.

“Proses lahirnya Pancasila melalui suasana yang sangat demokratis,” tuturnya.

Ada saran dan masukan dalam proses itu seperti apa yang hendak dinamakan dari lima gagasan besar yang dilontarkan Bung Karno. Pancasila dilahirkan oleh berbagai kalangan dengan latar suku, agama, profesi, yang beragam untuk menyepakati dan bertanggung jawab dalam membentuk satu kebersamaan, Indonesia.

Untuk itu sosialisasi yang digelar ditujukan meningkatkan cinta seluruh komponen bangsa kepada Indonesia. Sebagaimana proses lahirnya Pancasila yang dilahirkan oleh golongan Islam dan kebangsaan maka dengan sosialisasi masalah yang dihadapi bangsa ini yakni islamophobia dan kebangsaanphobia tidak terjadi.

“Supaya tidak terjadi fitnah antargolongan,” tuturnya.

Namun, bila ada kritik dan perdebatan diharapkan untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara. “Pendiri bangsa dahulu mengkritik dengan baik dan benar. Kritik ini dianggap sebagai bukti kita cinta pada bangsa dan negara," ujarnya.

Dalam kritik biasanya ingin terciptanya sebuah tatanan yang adil. “Soal keadilan, dalam Pancasila disebut dua kali, pada Sila II dan Sila V,” ungkapnya.

Menurutnya, UUD memberi ruang yang sangat lebar kepada rakyat untuk memperbaiki kondisi bangsa salah satunya lewat Pemilu. Untuk itu bila kita memilih calon pemimpin, diharap memilih yang mempunyai kapasitas, baik, dan mengedepankan kepentingan bangsa. Hal demikian disebut sebagai langkah konstitusional.

“Untuk itu jangan mubazirkan hak pilih kita. Jangan menganggap satu suara tidak berarti, satu suara bisa menciptakan kondisi yang lebih baik,” imbuhnya.

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up