
Ilustrasi: Massifnya penggunaan media sosial, banyak masyarakat berlomba-lomba membuat konten viral. /Jpc
JawaPos.com- Jakarta, Di tengah massifnya penggunaan media sosial, banyak masyarakat berlomba-lomba membuat konten. Isinya beragam, yang penting bisa viral. Masyarakat diingatkan supaya upaya jadi viral jangan sampai mengorbankan aspek moral.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Tim Literasi Digital Sektor Kelompok Masyarakat Rizki Ameliah kepada wartawan Rabu (30/11). Dia mengingatkan konten-konten yang viral di media sosial, tidak semuanya mengusung isi atau pesan positif. Bahkan sejumlah konten yang viral, isinya justru negatif.
Untuk itu dia menekankan perlunya edukasi kepada masyarakat. Supaya dalam mengejar produksi konten yang viral, jangan sampai melupakan moral. Diantara metode yang bisa dilakukan adalah melalui talkshow langsung kepada masyarakat. "Metode ini dinilai mampu memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat," kata Rizki dalam festival Literasi Digital Kementerian Kominfo.
Menurut dia tidak menutup kemungkinan dari peserta talkshow, nantinya ada yang menjadi influencer, konten kreator, vlogger, atau sejenisnya. Dengan adanya pembekalan literasi digital, konten yang mereka produksi nantinya bisa viral, tapi tetap mengusung pesan positif dan menjaga moral.
"Moral bisa disamakan dengan etika," tandasnya. Dia mencontohkan ketika memasuki rumah orang lain, maka sebaiknya memberi salam ataupun permisi. Begitupun dengan membuat konten ataupun masuk ke konten orang lain, kita sebaiknya tidak langsung berkomentar negatif atau semacamnya. Maka dari itu, etika yang kita tanam di dunia nyata, seharusnya juga diterapkan didalam dunia maya atau digital.
Sementara itu Angga Nggok salah satu konten kreator dari Podkesmas menyampaikan tips dan trik membuat konten viral, tanpa mengorbankan moral. Diantaranya selalu konsisten menyelipkan pesan-pesan moral untuk disampaikan kepada penonton atau pendengar.
"Konten yang menghibur tetap harus mempunyai border atau batasan," katanya. Jadi konten yang menghibur, isinya bukan hanya berisi candaan tanpa mempunyai edukasi. Dia mengungkapkan, seringkali menemukan beberapa orang yang membuat konten di luar nalar.
Konten yang dibuat di luar nalar tersebut, hanya mengincar viral saja. Tanpa mementingkan pesan positifnya. Jadi lebih baik kita membuat konten yang original dan mempunyai branding tersendiri, atau be your self. Menurut dia kemampuan membuat konten adalah keterampilan khusus. Sehingga perlu terus diasah dengan rutin memproduksi karya. (*)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
