
Photo
JawaPos.com - Peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Susilawati menyebut, pembangunan food estate di Kalimantan Tengah membutuhkan waktu yang cukup lama. Sehingga butuh kesabaran untuk mencapai ketahanan pangan baik tingkat regional, nasional hingga internasional.
"Lahan kita sangat luas dan potensial, pilihan Kalimantan Tengah sebagai salah satu tempat untuk food estate sudah tepat," kata Susilawati kepada wartawan, Kamis (2/2).
Susilawati mengatakan, untuk memenuhi ketahanan pangan, perlu dilakukan berbagai penyesuaian. Seperti seberapa besar jumlah kebutuhan pangan yang hendak dipenuhi.
"Karena untuk ketahanan pangan kita itu berhitung berapakah kebutuhan sesuai dengan jumlah penduduk, kemudian adakah lahan lain di Indonesia yang bisa memenuhi kebutuhan itu kalau bukan ke lahan rawa," imbuhnya.
Berdasarkan itu, lahan rawa yang begitu luas di Kalimantan Tengah dianggap sebagai tempat yang layak untuk dijadikan tempat lumbung pangan nasional. Namun, untuk menyiapkan lahan rawa menjadi lahan subur yang produktif bukan hal yang mudah, perlu adanya persiapan yang baik dan panjang.
"Pertama, lahan rawa mungkin dalam konteks persiapan tidak semudah membalik telapak tangan untuk membuatnya produktif, ada persiapan-persiapan yang kita harus lakukan yang kemudian ini menjadi bagian dari investasi kita," jelasnya.
Lahan rawa di Kalimantan Tengah didominasi kategori rawa pasang surut. Rawa ini sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Ada tipe luapan A, tipe luapan B, tipe luapan C dan tipe luapan D. Untuk menyimpulkan apakah mudah atau tidaknya sebuah lahan rawa itu untuk pertanian, maka harus dilihat terlebih dahulu situasi luapan tersebut.
"Petani lokal di kawasan food estate rata-rata sudah terbiasa mengelola lahan tersebut, terutama lahan tipe A dan tipe B yang dipengaruhi pasang surutnya air, terutama tipe B yang paling banyak dimanfaatkan untuk usaha tani padi," kata Susilawati.
Di tipe A atau B saat ini, sambung Susi, petani sudah mampu untuk mengahasilkan dua kali panen dalam setahun, tentunya dengan dibantu oleh sistem pengelolaan tata air. Manajemen air di dalam pertanian lahan rawa sangat penting, oleh karenanya, petani tidak dapat berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari pemerintah.
"Sedangkan tipe C atau D baru banyak dimanfaatkan petani untuk tegalan, untuk berkebun, jadi di sini banyak kita temukan kebun karet, kebun buah-buahan," ungkapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022