
Sejumlah kendaraan melintasi jembatan simang susun semanggi di kawasan semanggi, Jakarta, Jumat (28/7/2017). Simpang susun semanggi dilakukan uji coba open traffic untuk kendaraan roda empat.
JawaPos.com - Ada peran penting Ir Sutami di balik megahnya gedung MPR/DPR dan Jembatan Semanggi yang menjadi ikon ibu kota. Tak seperti proyek-proyek gemilangnya, kehidupan pria kelahiran Surakarta itu jauh dari gelimang harta.
Saking sederhananya, julukan menteri termiskin pernah tersemat kepadanya.
Dalam wawancara dengan Antara beberapa waktu lalu, Dewi Susilowati mengisahkan kembali hari-hari sang ayah sebagai menteri. Ketika itu, Sutami menjabat Menko pekerjaan umum dan tenaga listrik dalam Kabinet Dwikora pada era Presiden Soekarno.
Jabatan yang dimandatkan pada Juni 1965 itu melekat sampai 1978, bahkan saat kepemimpinan sudah beralih ke tangan Presiden Soeharto.
”Saya ingat salah satu proyek jembatan, mungkin di daerah Cipularang. Waktu itu, saya dan bapak berencana menyusul keluarga ke Bandung. Lalu, bapak minta saya tunggu sebentar di mobil karena mau cek jembatannya dulu,” ungkap Dewi.
Dari dalam mobil, dia melihat aktivitas Sutami di lapangan. Mulai bercakap-cakap dengan para pekerja jembatan sampai memeriksa hingga ke kolong jembatan. Dewi mengatakan bahwa ayahnya itu tidak mudah percaya begitu saja pada laporan bawahan.
Maka, segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya harus dia pastikan sendiri kondisinya.
Suami Sri Haryati itu juga dikenal tegas mengawasi penyusunan dan penggunaan anggaran proyek. Berasal dari keluarga yang sederhana, bahkan tergolong miskin, Sutami terlatih membelanjakan uang secara efisien.
Namun, yang lebih penting adalah dia sadar betul besarnya tanggung jawab moral dalam membelanjakan uang negara.
”Sebisa mungkin bapak cari yang tidak hanya efisien pengerjaannya, namun juga cost-nya. Gak ada itu titip-titipan sama bapak,” imbuh Dewi. Sebaliknya, dia juga tidak pernah meminta upah atau komisi dari pemborong atau perusahaan yang mengerjakan proyeknya.
Jujur memang menjadi karakter menonjol Sutami. Ketika pensiun pada 1978, dia mengembalikan semua fasilitas negara. Selama menjadi menteri, dia dan keluarganya hidup sangat sederhana. Demikian juga rumah yang menjadi tempat tinggal mereka.
Selain itu, Sutami tidak pernah berpangku tangan. Saking uletnya, para kolega menjulukinya sebagai menteri yang tidak punya udel (pusar). Istilah yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut pekerja keras yang tidak mengenal lelah.
Jembatan Semanggi yang identik dengan namanya merupakan proyek prestisius Sutami. Ketika itu, dia memperkenalkan teknik konstruksi yang dikenal dengan istilah prestressed-concrete atau konstruksi beton pratekan.
Dia menemukan teknik konstruksi itu saat berusia 33 tahun. Jembatan Semanggi dibangun untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas saat berlangsungnya Asian Games 1962.
Selaras dengan integritasnya, Sutami mendorong penggunaan electronic data processing dalam hitung-hitungan proyek/teknik di Indonesia. Dia juga memelopori pengikutsertaan perguruan tinggi dalam memecahkan masalah teknik pada pembangunan prasarana.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Zidane Ingin Menang di Stade de France
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Koordinator BEM UI Diserang OTK di Tebet Jaksel, Sempat Diancam Bunuh
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022