Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Oktober 2024 | 01.49 WIB

Iron Dome Kebanggaan Zionis Israel Ternyata Punya Kelemahan, Apa Saja?

Iron Dome, sistem antirudal kebanggaan Zionis Israel. (VoA News) - Image

Iron Dome, sistem antirudal kebanggaan Zionis Israel. (VoA News)

 
JawaPos.com - Sejak 2006 lalu, Zionis Israel selalu membangga-banggakan sistem pertahanan militer antirudal-nya yang bernama Iron Dome atau kubah besi. Sistem tersebut berfungsi menangkal serangan udara dan digadang-gadang sangat
canggih.
 
 
Iron Dome ini juga yang bikin Zionis Israel jadi besar kepala, kelewat congkak. Sombong sebagai negara yang menjajah Palestina dan membunuh ribuan masyarakat sipil tak berdosa. 
 
Ditambah lagi, Israel merasa Amerika Serikat (AS) dan beberapa Negara Barat ada di posisi mereka, menyokong keuangan, dana perang dan sistem persenjataan untuk cari masalah dengan negara-negara lain di Liga Arab.
 
Melansir BBC, Iron Dome telah menjadi sistem pertahanan udara yang paling teruji dalam pertempuran di dunia, karena banyaknya rudal yang ditembakkan ke Israel dalam beberapa tahun terakhir oleh Hamas dan kelompok militan lain dari Gaza, dan oleh Hizbullah dari Lebanon.
 
Iron Dome mendeteksi dan melacak roket yang datang dengan radar dan menghitung roket mana yang kemungkinan jatuh di daerah berpenduduk. Kemudian, ia menembakkan rudal ke roket tersebut, sementara roket lainnya dibiarkan jatuh di tanah terbuka.
 
Sistem ini dikembangkan setelah "Perang Musim Panas" tahun 2006 antara Israel dan Hizbullah. Kelompok bersenjata yang bermarkas di Lebanon itu menembakkan hampir 4.000 roket ke Israel, yang mengakibatkan kerusakan besar dan menewaskan puluhan warga.
 
Sementara menurut Euronews, pada bulan April, sekitar 300 pesawat nirawak, rudal balistik, dan rudal jelajah diluncurkan oleh Teheran menyusul dugaan serangan Israel terhadap konsulat Iran di Suriah. Sebagian besar di antaranya dicegat oleh Iron Dome.
 
Pada tanggal 1 Oktober, hampir 200 proyektil ditembakkan ke Israel sebagai balasan atas serangan udara Israel baru-baru ini terhadap target-target Hizbullah dan serangan darat terbatas di Lebanon. Sekali lagi, Iron Dome berhasil mencegat banyak tetapi tidak semua rudal.
 
Mengenai apa itu Iron Dome dan cara kerjanya, sudah kami bahas sebelumnya. Termasuk, jumawanya Zionis Israel yang mengagung-agungkan Iron Dome memiliki tingkat keberhasilan 90 persen dalam mencegat roket musuh.
 
Lalu, secanggih itukah Iron Dome? 
 
Meskipun pejabat militer Israel mengklaim tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen, Jean-Loup Samaan, seorang Peneliti Senior di Institut Timur Tengah Universitas Singapura, menggambarkan masalah efektivitas Iron Dome sebagai "sangat kontroversial".
 
"Alasannya adalah pada akhirnya, kita harus bergantung pada estimasi dan data, yang merupakan data pemerintah Israel," jelasnya kepada Euronews Next.
 
"Sejauh ini, apa yang dikatakan pemerintah Israel adalah bahwa efektivitas Iron Dome cukup tinggi. Mereka berbicara tentang tingkat intersepsi sebesar 90 persen. Pertanyaannya adalah pertama, apa sebenarnya arti tingkat intersepsi itu?" tambahnya.
 
Samaan melanjutkan, Iron Dome tetap memiliki kelemahan. Misalnya, Iron Dome hanya bisa mencegat atau menghancurkan roket yang dianggap mengancam wilayah perkotaan sipil.
 
"Jika Anda memiliki roket yang dikirim dari Gaza ke daerah tak berpenghuni di Israel, Iron Dome tidak akan aktif. Jadi sulit untuk mengatakan dengan pasti apa yang melatarbelakangi tingkat efektivitas 90 persen itu," katanya.
 
Masalah lain terkait efektivitas Iron Dome adalah Samaan berpendapat sistem tersebut belum menghalangi Hamas atau kelompok militan Palestina lainnya untuk meluncurkan serangan roket yang menargetkan wilayah Israel.
 
"Jadi ini memberi tahu kita bahwa Iron Dome, ya, mungkin efektif secara operasional, tetapi secara strategis tidak benar-benar menghalangi organisasi Palestina," tambahnya.
 
Kelemahan lainnya dari Iron Dome adalah operasionalnya yang mahal. Menjaga Iron Dome tetap beroperasi membutuhkan biaya yang mahal. Menurut Samaan, satu rudal pencegat yang diberi julukan 'Tamir' saja diperkirakan menghabiskan biaya sekitar USD 50.000 atau berkisar Rp 771 jutaan. 
 
Awalnya pendanaan Iron Dome dilakukan oleh Israel. Tetapi karena tingginya biaya sistem tersebut, negara tersebut akhirnya harus bergantung pada sekutu lamanya, Amerika Serikat, jadi nggak heran kalau AS selalu ikut campur dalam konflik di Timur Tengah ini. (*)
Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore