Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 September 2025, 01.35 WIB

Pakar UM Surabaya Soroti Gaya Komunikasi 'Koboi' Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Istimewa) - Image

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Istimewa)

JawaPos.com - Meski sempat mendapat protes dari masyarakat usai dilantik Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa kini mulai mencuri perhatian lewat gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos dan 'koboi'.

Sebagian masyarakat menilai gaya komunikasi Purbaya mampu menjelaskan program pemerintah secara sederhana. Namun, gaya komunikasinya juga memicu polemik karena dianggap kurang selaras dengan kondisi sosial.

Pakar kajian budaya dan media, Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Radius Setiyawan menilai gaya komunikasi Menkeu Purbaya, berciri dynamic style yang lugas, cepat, dan langsung ke inti persoalan. 

Namun, ia mengingatkan pentingnya sensitivitas sosial dalam setiap pernyataan publik, seperti ketika Purbaya mengatakan bahwa aksi demonstrasi hanya mewakili sebagian kecil masyarakat, hal itu menimbulkan kontroversi.

“Tetapi makin ke sini, Purbaya terlihat belajar. Ia mampu menjawab isu-isu makroekonomi, perbankan, hingga moneter dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah diterima publik,” ujar Radius, Kamis (18/9).

Menurutnya pejabat di Indonesia memiliki gaya komunikasi yang beragam. Ia menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dikenal dengan systematic style, menyusun jawaban runut dan hati-hati. 

Presiden Joko Widodo memiliki gaya komunikasi egaliter, menggunakan bahasa sederhana agar dekat dengan masyarakat. Radius menegaskan setiap gaya komunikasi memiliki kelebihan masing-masing.

"Yang terpenting, komunikasi politik bukan sekadar retorika. Kalau kondisi publik sedang marah atau kecewa, jangan sampai muncul kata-kata diskriminatif atau membuat masyarakat merasa tidak dianggap,” tegas Radius.

Warek bidang Riset, Kerjasama dan Digitalisasi UM Surabaya ini juga memberi pesan bagi jajaran menteri baru di Kabinet Merah Putih. 
Masyarakat kini menuntut komunikasi yang sederhana, namun substansial.

"Jangan sampai kebijakan bagus gagal diterima hanya karena cara menyampaikannya keliru. Menteri harus paham betul siapa audiensnya, kondisi sosialnya, dan memilih bahasa yang tepat,” tukas Radius.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore