Seorang tentara Afghanistan berjaga di gerbang pangkalan udara Bagram Amerika Serikat di provinsi Parwan pada hari pasukan AS terakhir mengosongkannya, 2 Juli 2021 [Mohammad Ismail/Reuters].
JawaPos.com - Ketegangan baru muncul antara Amerika Serikat (AS) dan Afghanistan setelah Taliban menolak mentah-mentah permintaan Presiden AS Donald Trump, untuk menyerahkan kembali Pangkalan Udara Bagram, bekas markas militer terbesar AS selama perang 20 tahun di Afghanistan.
Dalam pernyataan resminya, Taliban menegaskan bahwa kedaulatan dan integritas teritorial Afghanistan adalah 'harga mati' dan memperingatkan Washington agar tidak mengulang pendekatan keliru di masa lalu.
“Kebijakan yang realistis dan rasional seharusnya diutamakan,” tegas pemerintah Taliban, Minggu (21/9) dilansir via Al-Jazeera.
Trump, yang tengah gencar mengkritik penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada 2021 di era Joe Biden, mengungkapkan keinginannya menguasai kembali Bagram. Ia bahkan melontarkan ancaman.
“Kami menginginkannya kembali segera. Kalau tidak, kalian akan tahu apa yang akan saya lakukan," ungkapnya.
Pernyataan Trump disampaikan dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pekan lalu, sekaligus menyindir posisi geopolitik Bagram.
Menurutnya, lokasi pangkalan yang hanya berjarak sekitar satu jam dari Lop Nur, lokasi uji coba nuklir China di Xinjiang, menjadikan fasilitas itu “terlalu strategis untuk dilepas.”
Bagram, yang berlokasi 50 km utara Kabul, dibangun Uni Soviet pada 1950-an dan kemudian direvitalisasi oleh AS pasca invasi 2001. Pangkalan ini memiliki landasan pacu sepanjang hampir 3,6 km, cukup untuk mengoperasikan pesawat pembom strategis maupun kargo berat.
Selama masa pendudukan, ribuan orang ditahan di fasilitas tersebut tanpa pengadilan, sebagian besar dilaporkan mengalami penyiksaan. Namun, bagi Taliban, Bagram adalah simbol kemenangan atas kekuatan asing.
“Kesepakatan atas sejengkal tanah Afghanistan tidak mungkin terjadi. Kami tidak membutuhkannya,” ujar Fasihuddin Fitrat, pejabat senior Kementerian Pertahanan.
Senada, pejabat Kementerian Luar Negeri Zakir Jalaly menambahkan, rakyat Afghanistan “tak pernah menerima keberadaan militer asing di tanah mereka sepanjang sejarah.”
Sebagai informasi, sejak ditinggalkan pasukan AS pada Agustus 2021, Bagram kembali berada di bawah kendali penuh Taliban.
Upaya Trump untuk merebutnya kembali bukan hanya menyinggung isu kedaulatan Afghanistan, tapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan geopolitik di Asia Tengah yang sudah rapuh, terutama dengan keterlibatan Tiongkok di kawasan tersebut.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
