
Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti. (Akun X @azissubekti)
JawaPos.com - Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti mengingatkan pemerintah terhadap potensi risiko sistemik bagi perekonomian Indonesia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Eskalasi militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, terutama ancaman penutupan Selat Hormuz, dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada ketahanan fiskal nasional.
Azis menegaskan, Selat Hormuz merupakan arteri energi global yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Gangguan pada jalur strategis ini akan menimbulkan efek domino, mulai dari kenaikan premi asuransi pelayaran hingga terganggunya rantai pasok global.
“Krisis di Selat Hormuz bukan hanya soal geografi, melainkan risiko sistemik. Ketika jalur ini terganggu, harga minyak akan melonjak dan inflasi menjalar ke biaya transportasi hingga harga pangan di dalam negeri,” kata Azis kepada wartawan, Rabu (4/3).
Legislator Fraksi Partai Gerindra itu juga menyoroti dilema yang dihadapi pemerintah. Yakni mempertahankan harga BBM melalui subsidi yang kian membengkak atau menyesuaikan harga dengan risiko penurunan daya beli masyarakat.
Sebab, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
“Subsidi yang terlalu besar dapat menggerus ruang fiskal yang seharusnya dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan. Namun, penyesuaian harga yang terlalu tajam juga berisiko melemahkan konsumsi domestik. Indonesia bisa menghadapi tekanan simultan pada fiskal, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi jika konflik ini berkepanjangan,” jelasnya.
Menghadapi situasi ini, Azis mendorong pemerintah menempuh dua langkah strategis.
Pertama, diplomasi aktif. Indonesia sebagai pemimpin kawasan dan anggota G20 perlu mendorong de-eskalasi melalui forum internasional serta memperkuat suara negara-negara Global South demi menjaga stabilitas jalur energi.
Kedua, penguatan struktural di dalam negeri. Pemerintah didorong mempercepat diversifikasi energi, memperkuat cadangan strategis nasional, dan memastikan subsidi energi tepat sasaran.
“Transisi energi bukan lagi agenda jangka panjang yang bisa ditunda, melainkan strategi ketahanan nasional. Kita harus memastikan guncangan eksternal tidak berubah menjadi krisis domestik melalui koordinasi fiskal dan moneter yang disiplin,” tegasnya.
Meski secara geografis jauh dari Indonesia, Azis mengingatkan bahwa gangguan pada jalur energi global tetap akan berdampak pada ekonomi rumah tangga nasional.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
