
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, Kota Tangerang, Banten melibatkan11 narapidana atau warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang sebagai relawan pencuci ompreng/(Istimewa).
JawaPos.com - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, Kota Tangerang, Banten, melibatkan 11 narapidana atau warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang sebagai relawan pencuci ompreng.
Kolaborasi ini menjadi gambaran upaya yang menggabungkan pelayanan gizi dan pemberdayaan sosial dalam operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Diketahui, dapur SPPG Babakan tersebut ternyata berlokasi di dalam area Lapas Kelas 1 Tangerang. Para warga binaan yang telah mendapatkan remisi dan akan kembali ke masyarakat ini bertugas di bagian pencucian ompreng, tanpa terlibat dalam proses pengolahan makanan. Seluruh aktivitas mereka juga berada di bawah pengawasan ketat petugas Lapas.
“Kita bekerja sama dengan Lapas, dan kita memberikan slot, bukan slot atau tempat yang kemudian diberikan kepada anak-anak Lapas, binaan Lapas. Itu sekitar 11 orang,” ujar Head Chef dapur SPPG Babakan, Chef Kuming, dilansir dari rilis Bakom RI, Kamis (23/4).
Ia menegaskan, para warga binaan tidak diperkenankan menyentuh makanan maupun menggunakan peralatan tajam selama bekerja. Pengawasan dilakukan secara intensif oleh petugas Lapas, bahkan hingga larut malam.
“Dari jam 2 siang, bahkan mereka pernah lembur sampai jam 2 pagi. Pihak sipir 4-5 orang masih tetap standby di sini. Jagain di pintu depan, di pintu belakang, sama di jendela gitu. Jadi insya Allah aman,” jelasnya.
Meski berada dalam pengawasan ketat, Chef Kuming menilai kinerja para warga binaan sangat baik, terutama dalam menjaga kebersihan dan kerapian. “Entah gimana mungkin mereka sudah terbiasa disiplin gitu. Omprengnya ini saya bilang perfect, clean,” ungkapnya.
Ia mengaku beberapa kali melihat di SPPG lain pada pagi hari, ompreng masih basah dan harus dilap ulang. Sementara di SPPG Babakan, seluruh ompreng dalam kondisi kering. “Jadi ini luar biasa sih buat binaan LAPAS ini. Ini keren,” sambungnya.
Chef Kuming menambahkan, sebelum mulai bekerja, para warga binaan terlebih dahulu mendapatkan pembekalan mengenai standar operasional pencucian ompreng. Mulai dari proses pembilasan, pencucian dengan sabun, pembilasan ulang, pengeringan, hingga sterilisasi dan penataan.
Ia berharap keterlibatan warga binaan ini tidak hanya membantu operasional dapur, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pembinaan dan pemberdayaan. Upaya ini diharapkan dapat menyiapkan mental dan psikologis warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
