
Petugas evakuasi korban kecelakaan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line dengan kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). (Raiza Septianto/Radar Bekasi)
JawaPos.com - Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, terkait penempatan gerbong kereta api khusus perempuan di bagian tengah, menuai pro dan kontra di masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Arifah menyusul terjadinya kecelakaan lalu lintas antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4), yang menewaskan 15 penumpang perempuan.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Radius Setiyawan, menilai isu keselamatan transportasi tidak bisa disederhanakan hanya dengan memindahkan posisi gerbong dalam rangkaian.
Pernyataan Menteri PPPA, Arifah Fauzi sebaiknya dipahami sebagai langkah cepat berbasis mitigasi risiko, bukan solusi akhir, serta penting memastikan akses evakuasi tetap jelas dan mudah dijangkau.
“Usulan itu penting. Tapi evaluasi tak boleh berhenti di posisi gerbong saja. Sistem keselamatan harus lebih serius, petugas harus sigap, dan transportasi publik harus sensitif gender,” tutur Radius, Rabu (29/4).
Menurutnya, gerbong khusus perempuan adalah bentuk afirmasi untuk meningkatkan rasa aman dari potensi pelecehan di ruang publik. Namun, kebijakan itu tidak boleh disederhanakan hanya sebagai perubahan posisi fisik semata.
“Gerbong perempuan itu penting sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi pelecehan dan kekerasan di ruang publik. Tetapi afirmasi ini jangan diterjemahkan semata soal memindahkan posisi gerbong,” imbuhnya.
Radius mengingatkan persoalan mendasar yang perlu dicermati. Ia menilai narasi perlindungan kerap beririsan dengan kontrol, sehingga kebijakan yang tampak melindungi justru menempatkan perempuan sebagai pihak rentan.
Kebijakan tersebut juga dinilai berpotensi menormalisasi ruang publik sebagai ruang maskulin. Penempatan perempuan di zona tertentu secara implisit memberi kesan area lain kurang aman bagi mereka.
Radius menilai usulan memindahkan gerbong berisiko menggeser akar persoalan. Fokus kebijakan justru pada posisi perempuan, bukan pada sumber kekerasan seperti perilaku predator, budaya patriarki, dan lemahnya aturan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022