Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 03.33 WIB

Sampaikan Orasi Kebangsaan di Unikama, Menko Yusril Ingatkan Pentingnya Etika Bernegara

Menko Yusril Ihza Mahendra menanggapi 5 WNI yang ditangkap tentara zionis Israel di perairan Mediterania, Selasa (19/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Menko Yusril Ihza Mahendra menanggapi 5 WNI yang ditangkap tentara zionis Israel di perairan Mediterania, Selasa (19/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menyampaikan orasi kebangsaan di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) pada Selasa (7/7). Yusril mengingatkan pentingnya etika bernegara.

Dalam orasinya, Yusril menyampaikan bahwa para pendiri bangsa sudah pernah berdebat panjang ihwal bentuk negara. Mulai gagasan tentang sekuler, negara berlandas Islam, sampai akhirnya mencapai titik temu lewat kompromi politik yang menjadi landasan lahirnya Piagam Jakarta.

Salah satu debat panjang yang diulas oleh Yusril adalah pemikiran Soekarno dan Mohammad Natsir. Persisnya yang terkait dengan hubungan antara agama dengan negara. Menurut dia, pandangan kedua tokoh tersebut sering disalahartikan dalam perkembangan sejarah.

”Soekarno bukan sekuler, beliau menghendaki negara didasarkan atas kebangsaan, tetapi jika mayoritas rakyat menghendaki hukum yang bercorak Islam melalui mekanisme demokrasi, maka itu dapat diwujudkan melalui lembaga perwakilan,” kata dia.

Di lain sisi, Yusril menyampaikan bahwa Mohammad Natsir juga tidak menghendaki negara teokrasi. Dia menyatakan, Natsir menerima prinsip kedaulatan rakyat, namun tetap menjadikan nilai-nilai ketuhanan dan etika universal sebagai pedoman dalam penyelenggaraan negara.

”Nilai-nilai, norma-norma etik yang bersifat universal, itulah yang harus menjadi acuan dalam penyelenggaraan negara,” tegasnya.

Yusril juga menekankan bahwa agama berperan strategis sebagai sumber nilai moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia menyebut, setelah merdeka, Indonesia memiliki konstitusi yang menempatkan demokrasi berdasarkan kedaulatan rakyat sebagai fondasi negara. Sehingga nilai-nilai etika tidak boleh dipisahkan dari kehidupan bernegara.

”Agama mengajarkan kita bijak, mengajarkan kita lurus, dan memberikan landasan kepada etika. Kita tidak mungkin melupakan dasar etik yang sesungguhnya kita temukan di dalam agama-agama yang kita yakini dan hidup di tanah air kita,” ujarnya.

Lewat orasi yang sama, Yusril juga menyinggung perkembangan bahasa sebagai bagian dari peradaban bangsa Indonesia. Dia menilai, bahasa daerah memiliki fungsi penting sebagai identitas budaya meski sampai saat ini belum berkembang menjadi bahasa akademik yang mampu menopang pengembangan ilmu pengetahuan modern.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore