
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dalam acara peringatan '30 Tahun Peristiwa Kudatuli' di kantor DPP PDIP, Jakarta, Minggu (26/7). (Muhamad Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Proses penegakan hukum di Indonesia dinilai belum memenuhi rasa ketidakadilan. Hal itu terlihat jelas dari proses penegakan hukum yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, karena tidak mengenakan rompi tahanan dan borgol saat hendak menjalani penahanan, di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Merah Putih KPK, Jakarta, pada Jumat malam (24/7).
Peristiwa itu tidak dipungkiri menjadi sorotan publik. Salah satunya Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang membandingkan dengan seorang diduga maling ayam tewas dikeroyok massa di Tabanan, Bali.
"Ini sangat kontras dengan proses penegakan hukum yang terjadi yang berkaitan dengan Bapak mantan Jampidsus, Bapak Febrie," kata Hasto usai acara '30 Tahun Peringatan Peristiwa Kudatuli' di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Minggu (26/7).
Ia menegaskan, seharusnya setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Namun, nyatanya persepsi tersebut tidak sama dihadapan penegak hukum.
Hasto mengakui dirinya sempat mengalami ketidakadilan. Namun, ia menegaskan dirinya menghormati proses hukum yang sempat menjeratnya dengan mengenakan rompi tahanan dan tangan di borgol.
"Saya pun pernah mengalami ketika mengenakan rompi oranye, diborgol, saya taat. Meskipun saya tahu itu bagian dari suatu kriminalisasi akibat sikap keras di dalam menyikapi Pemilu tahun 2024 yang lalu, itu saya terima," cetusnya.
Ia menegaskan, proses hukum seharusnya tidak memberikan perlakuan berbeda terhadap penyelenggara negara. Ia menekankan, tidak serta-merta pejabat negara tetapi mendapatkan keistimewaan saat terjerat kasus hukum.
"Tidak boleh ada perlakuan yang berbeda hanya karena seorang pejabat di bidang hukum lalu mendapatkan suatu keistimewaan. Ini yang akan mempercepat ketidakpuasan itu," ujarnya.
Lebih lanjut, Hasto menyatakan tidak lagi ingin peristiwa seperti Kudatuli atau hukum hanya berpihak kepada kaum elite yang terjadi saat rezim Orde Baru.
"Jangan sampai pengalaman pahit itu terjadi kembali. Dan kondisi yang ekstrem tersebut menunjukkan bahwa hukum betul-betul tidak berkeadilan," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022