Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Agustus 2026 | 21.31 WIB

Prabowo Kunjungi Lokasi Gempa NTT: Terima Laporan 105 Orang Meninggal, 179 Ribu Mengungsi 

Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym) - Image

Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym)

JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penanganan dampak gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (26/8).

Dalam kunjungan itu, Prabowo menerima laporan mengenai kondisi terkini serta perkembangan penanganan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan, pusat gempa berada di wilayah utara Kabupaten Nagekeo. Guncangan tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Flores.

“Gempa ini episentrumnya berada di sebelah utara Nagekeo. Yang terdampak ada tujuh kabupaten, yaitu Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka,” kata Suharyanto di hadapan Prabowo.

Suharyanto menyebut Kabupaten Flores Timur tidak termasuk wilayah yang terdampak gempa. Namun, daerah itu masih menghadapi ancaman bencana lain berupa erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan catatan BNPB hingga Selasa (25/8) sore, aktivitas kegempaan di Flores telah mencapai 7.259 kali sejak 15 Agustus 2026. Meski frekuensinya masih tinggi, intensitas gempa disebut terus menurun dan tidak lagi ditemukan gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 7,7.

Sementara itu, gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat tercatat sebanyak 143 kali. Pada Rabu (26/8), hanya satu gempa susulan yang dilaporkan terasa oleh warga.

Menurut Suharyanto, banyaknya aktivitas gempa susulan turut memengaruhi keputusan warga untuk mengungsi. Sebagian masyarakat memilih meninggalkan rumah karena masih takut terhadap kemungkinan gempa yang lebih besar.

“Sebetulnya jumlah pengungsi yang banyak ini bukan karena terdampak langsung, tetapi karena masyarakat ketakutan akibat gempa susulan dan isu di media sosial yang menyebut akan terjadi gempa lebih besar bahkan tsunami,” ujarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore