Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2026 | 22.41 WIB

BGN Mulai Uji Coba MBG Prasmanan di 60 Titik Dapur, Disajikan Hangat di Kelas

Kepala BGN Sudaryono. (Istimewa) - Image

Kepala BGN Sudaryono. (Istimewa)

JawaPos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji pola baru penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem prasmanan di sekolah. Dalam skema ini, makanan dari dapur SPPG atau central kitchen dibawa dalam kondisi hangat untuk kemudian disajikan langsung di kelas.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba tersebut telah dilakukan di lebih dari 60 dapur per Senin (5/10). Sistem itu diharapkan membuat makanan yang diterima siswa lebih segar sekaligus mengurangi jeda waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi.

“Saya mau sampaikan per hari ini dari tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono kepada wartawan di Kantor Kementan, Senin.

Sudaryono mengatakan, sistem tersebut memiliki sejumlah tujuan. Selain membuat makanan lebih segar, penyajian langsung di kelas dinilai dapat mengurangi risiko makanan mengalami kerusakan akibat terlalu lama berada dalam perjalanan atau menunggu untuk dikonsumsi.

“Ini kita lagi piloting, kami harapkan doa dan dukungannya kita bisa lebih luas sehingga satu makanannya lebih enak karena anget-anget,” jelasnya.

Dia menambahkan, sistem prasmanan membutuhkan keterlibatan sekolah karena pelayanan makanan tidak hanya menjadi tanggung jawab dapur. Siswa juga akan dilibatkan untuk membantu melayani teman-temannya di kelas.

“Jadi kalau prasmanan ini yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswa. Jadi siswa itu ada piket kayak di Jepang gitu lho,” kata Sudaryono.

Dalam pelaksanaannya, siswa yang mendapat giliran piket akan dibekali dengan perlengkapan dan tata cara pelayanan makanan. Mereka antara lain menggunakan celemek dan sarung tangan serta bertugas melayani teman maupun guru.

“Cuman memang perlu ada training yang cukup lah, karena melibatkan sekolah kan. Melibatkan siswanya kan, siswanya harus nanti siswa pakai celemek, kemudian pakai sarung tangan, dia piket 5-6 orang dia ngelayani temennya, ngelayani gurunya gitu,” ujarnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore