JawaPos Radar | Iklan Jitu

Basmi KKB, Wiranto: Kita Menghentikan Pelanggaran HAM

17 Desember 2018, 17:52:41 WIB
Wiranto
Menkopolhukam Wiranto, saat diwawancarai awak media beberapa waktu lalu (Sabik Aji Taufan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Di balik terjadinya pembunuhan sadis di Nduga, Papua, muncul anggapan bahwa kehadiran TNI di lokasi tersebut membuat masyarakat setempat terganggu. Sehingga mereka meminta agar penyelesaian kasus di Nduga tidak menggunakan cara militer.

Namun, Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto tidak sepakat akan hal itu. Menurutnya kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua ini tidak bisa diselesaikan dengan cara negosiasi. Terutama dalam pertimbangan tingkat kejahatan yang sudah dilakukan.

"Saya tanya sekarang, kalau ada kelompok masyarakat yang pakai senjata kemudian nembak orang-orang yang tak berdosa, emangnya kita bisa melawan pakai kata-kata?," kata Wiranto di kantor Kemenko Polhukam Jakarta, Senin (17/12).

"Kalau Anda punya resepnya itu, saya akan angkat anda menjadi Panglima (TNI, Red) melawan mereka dengan kata-kata. Dan mereka nurut, itu saya ikut anda," imbuhnya.

Wiranto menuturkan, dirinya bukan kali ini saja menghadapi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh KKB. Ketika dia dulu masih menjadi Panglima TNI, kasus serupa di beberapa daerah pun sudah ditangani. Dan menang kelompok semacam ini jiwa sudah sangat sulit jika diselesaikan melalui jalur mediasi.

"Saya juga menghadapi masalah-masalah di Aceh, di Kalimantan, di Ambon, Papua sendiri di Timor-Timor. Itu kalau sudah kekuatan bersenjata, sudah merasa hero, merasa hebat," tegasnya.

Selain itu, menurut mantan Ketua Umum Partai Hanura itu, perlawanan dengan menggunakan militer atas ancaman gangguan negara dibolehkan secara Undang-undang. Hukum internasional pun demikian. Sehingga tidak ada aturan yang dilanggar.

"Jadi kita bukan asal-asalan bukan melanggar HAM, tapi kita menghentikan pelanggaran HAM. Kalau kita tidak hentikan korban bisa lebih besar lagi, sekarang aja sudah 17 orang," tandasnya.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : (sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up