JawaPos Radar | Iklan Jitu

Dunia Puji Cara Khas Indonesia Tangani Terorisme, Negara Lain Tak Bisa

28 Desember 2018, 08:56:55 WIB
Wiranto
Menkopolhukam Wiranto (tengah). Wiranto menyebut cara Indonesia menangani persoalan terorisme, telah diakui dunia. Terutama mengenai soft approach-nya. (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Aparat penegak hukum belakangan selalu mengedepankan soft approach (upaya persuasif) dalam upaya penanggulangan terorisme di Indonesia. Ternyata gaya seperti ini banyak mengundang perhatian dunia.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan, soft approach yang diterapkan oleh penegak hukum Indonesia disebut menjadi ciri khas penanggulangan terorisme di negeri ini. Bahkan di negara lain tidak ada penerapan sistem tersebut.

"Indonesia sudah punya role model yang diakui dunia yang merupakan satu ciri khas Indonesia untuk menyelesaikan penanggulangan terorisme ini," ujar Wiranto di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (27/12).

Role model seperti ini dikatakan Wiranto banyak negara luar yang ingin menirunya karena dianggap efektif mencegah aksi terorisme terjadi.

Pasalnya dengan penerapan soft approach itu, negara luar menilai aksi terorisme di Indonesia sangat minim terjadi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mayoritas Islam terbesar di dunia dengan luas wilayah NKRI.

"Ini satu yang membanggakan kita karena negara lain ingin belajar dari kita. Karena rasio terorisme di Indonesia dibanding jumlah penduduk dengan terorisnya sangat kecil, sehingga mereka (negara luar, Red) banyak kagum," jelasnya.

Lebih lanjut, mantan panglima TNI itu mengatakan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius sudah berulang kali diundang ke luar negeri. Tidak lain untuk diminta berbagi resep penanggulangan terorisme.

"Makanya Kepala BNPT sudah sangat sering sekali diundang ke banyak negara untuk bisa menyampaikan apa sih resepnya," pungkas Wiranto.

Suksesnya metode soft approach sendiri karena pemberantasan terorisme dilakukan pula di hulu permasalahan atau di level pencegahan bagi masyarakat yang sudah mulai terindikasi terpapar radikalisme. Hal itu untuk mencegah seseorang bergeser menjadi pelaku terorisme.

Sementara itu, jika penindakan terorisme dilakukan hanya dengan cara hard approach, maka terorisme hanya diberantas di bagian pelaku aksi terorisme atau yang biasa disebut militan maupun pelaku inti. Sedangkan bibit-bibit terorisme akan terus bermunculan.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : (ce1/sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up