JawaPos Radar | Iklan Jitu

31 Warga Dibantai di Papua, Ketua Komnas HAM: Terkutuklah Pelakunya

05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
31 Warga Dibantai di Papua, Ketua Komnas HAM: Terkutuklah Pelakunya
Ilustrasi: Pembunuhan pekerja proyek jembatan melanggar HAM (Kokoh Praba/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tragedi pembantaian di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua mendapat kecaman dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Komnas HAM Wilayah Papua.

Ketua Komnas HAM Papua Frits Ramandey menyatakan, tindakan pelaku yang diduga anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) itu sangat tidak manusiawi. Perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai tindakan kejahatan kemanusiaan dan melanggar HAM.

Diterangkan Frits, berdasar informasi yang didapat bahwa pada 1 Desember, KKB tersebut sedang melakukan acara kemudian para pekerja jembatan itu mengambil foto sehingga dikejar dan dibunuh.

31 Warga Dibantai di Papua, Ketua Komnas HAM: Terkutuklah Pelakunya
infografis pembunuhan di papua (kokoh praba / jawapos.com)

"Tindakan orang-orang ini mengakibatkan terhalangnya pemenuhan pelayanan publik kepada masyarakat Papua. Mereka menghambat pembangunan jalan dari keterisolasian dengan mencabut nyawa orang-orang yang sedang mengerjakan jalan sebagai akses publik di daerah tersebut,” tutur Frits kepada Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group), Selasa (4/12).

Dia menegaskan, pembunuhan yang dilakukan secara sadis dan dalam jumlah yang banyak merupakan bentuk kejahatan luar biasa. Untuk itu, Komnas HAM mengutuk tindakan kelompok tersebut.

Atas kasus ini mengesahkan negara untuk mengambil langkah hukum dalam rangka dua hal. Pertama, memastikan informasi tersebut dan mengambil jasad para korban untuk dimakamkan secara baik. Kedua, aparat harus hadir untuk memastikan warga negara yang ada di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga tidak mengalami tekanan oleh KKB. "Komnas HAM menjadi pihak yang tidak nyaman dengan kejadian ini dan terkutuklah pelakunya,” tegasnya.

Bagi Frits, pembantaian di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga merupakan kado yang paling memilukan menjelang peringatan Hari HAM yang jatuh pada 10 Desember. Untuk itu, dirinya mengkategorikan ini sebagai pelanggaran HAM serius. “Pelaku wajib bertanggung jawab dalam pembantaian ini,” tegasnya.

Sebelum membunuh pekerja proyek, sebut Frits, KKB itu sebelumnya sudah melakukan kejahatan luar biasa di Kabupaten Nduga. Mereka pernah memperkosa tenaga guru bahkan mengintimidasi para pekerja kemanusiaan yang ada di Nduga.

Senada dengan itu, Pemprov Papua pun mengecam perbuatan pelaku. Asisten Bidang Pemerintahan dan Hukum Provinsi Papua, Doren Wakerkwa, sangat menyesalkan kejadian tersebut.

"Ini sudah menyangkut keamanan nasional. Penembakan yang dilakukan secara membabi buta itu telah menghilangkan nyawa manusia. Ini sudah sangat keterlaluan dan kacau sekali. Kami tidak setuju dan tidak membenarkan tindakan-tindakan tidak berprikemanusiaan seperti ini,” ungkap Doren Wakerkwa kepada wartawan.

Terkait hal perbutan itu, Doren Wakerkawa meminta Pemkab Nduga dan seluruh masyarakat untuk dapat memberikan asistensi bagi Polda Papua, serta kepada Kodam XVII/Cenderawasih dengan cara memfasilitasi mereka melakukan tugasnya mengungkap pelaku penembakan tersebut.

"Sebagai mantan karateker di Nduga, serta dari Pemerintah Provinsi Papua, saya mengharapkan seluruh masyarakat di Nduga, termasuk pemerintah daerah setempat untuk memfasilitasi pihak berwajib mengungkap dan menangkap pelakunya.” Pelaku harus diungkap dan ditangkap. Sebab, tindakan menghilangkan nyawa manusia ini masuk kategori pelanggaran HAM.

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (iil/JPC)

Alur Cerita Berita

Darmin: Kakak Saya Lari, lalu Ditembak Mati 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
Ketua MPR Kecam Peristiwa Pembantaian di Papua 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
16 Ambulans Siaga di Lanud Hasanuddin 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
9 Dievakuasi, 20 Orang Selamat dari KKB 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
Wawancara dengan Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
Cerita JA, Selamat dari KKB Karena Pura-pura Mati 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
Tidak Cukup Hanya Peningkatan Ekonomi 05 Desember 2018, 02:30:59 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini