JawaPos Radar | Iklan Jitu

Teror Bom Pimpinan KPK

Jokowi: Tidak Ada Toleransi, Kejar, dan Cari Pelakunya

Kapolri Sebut Ada Petunjuk ke Pelaku

11 Januari 2019, 15:57:03 WIB
Jokowi: Tidak Ada Toleransi, Kejar, dan Cari Pelakunya
Presiden Jokowi memerintah Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menangkap pelaku teror bom di rumah pimpinan KPK. ()
Share this

JawaPos.com - Penyelidikan teror bom di rumah dua pimpinan KPK, Laode M. Syarif dan Agus Rahardjo, mengalami kemajuan. Polri memastikan sedang menganalisis hasil empat rekaman closed circuit television (CCTV). Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan isyarat adanya petunjuk yang didapatkan penyidik untuk mengetahui pelaku teror, khususnya yang terjadi di rumah Laode.

Tito menjelaskan bahwa kepolisian telah menemukan sejumlah petunjuk menarik terkait teror di rumah dua pimpinan KPK. Namun, petunjuk tersebut belum bisa dijabarkan. "Ya, semoga secepatnya terungkap," papar Tito di kampus Universitas Indonesia (UI) kemarin (10/1).

Dia mengaku telah menginstruksi Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz untuk membuat tim gabungan dengan KPK guna mengungkap kasus teror tersebut. Harapannya, pengungkapan kasus itu bisa lebih transparan. "Saya sudah koordinasi dengan Pak Agus dan Pak Laode."

Jokowi: Tidak Ada Toleransi, Kejar, dan Cari Pelakunya
Presiden Jokowi bersama Ketua KPK Agus Rahardjo beberapa waktu lalu. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Saat ini penyelidikan kasus tersebut sedang fokus ke rekaman CCTV di rumah kedua pimpinan. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa empat CCTV itu dianalisis untuk bisa mendapatkan petunjuk. "Tim sedang bekerja untuk mengetahui apakah pelaku dapat dikenali melalui CCTV. Masih proses, ya," ujarnya.

Bukankah ada dua pelaku berboncengan yang terekam di CCTV? Dia mengaku hal tersebut masih dianalisis. "Perlu dilihat, terekam itu apakah bisa dikenali. Kalau ternyata pakai topeng dan sebagainya," jelasnya.

Yang pasti, empat CCTV itu diupayakan bisa mengurut perjalanan pelaku. Dari mana pelaku masuk area rumah pimpinan KPK hingga menaruh atau melemparkan bom molotov di rumah Laode. "Ini yang sedang disusun," paparnya.

Dalam kasus tersebut, ada 12 saksi yang telah diperiksa. Saksi-saksi tersebut dimintai keterangan terkait kronologi kejadian dan kemungkinan melihat pelaku. "Tapi, kebanyakan hanya melihat bom molotov yang telah pecah dan mengeluarkan api," paparnya.

Dedi meminta masyarakat tidak mempersepsikan kasus tersebut di luar fakta hukum. Sebab, penegakan hukum itu berdasar fakta hukum yang ditemukan. Kejadian tersebut perlu dibuktikan secara ilmiah, misalnya, bukti siapa pembuat bom, siapa pelempar, dan siapa yang mengorder untuk meneror. "Pembuktian ilmiah, jangan asumsi," jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPK Agus Rahardjo mengaku baru tahu saat malam setelah kejadian bahwa bom pipa yang dipasang di pagar rumahnya adalah fake bomb. "Bahan bakunya bukan mesiu, jadi semacam semen putih," terangnya saat ditemui di Hotel Bidakara kemarin. Hanya, bentuknya memang dibuat mirip bom betulan. Ada rangkaian kabel, baterai, dan pemicu.

Selain itu, lanjut dia, dirinya sudah dihubungi pihak Mabes Polri. Penyidik meminta Agus menyediakan waktu untuk memberikan keterangan seputar kasus tersebut.

"Sebetulnya saya malah minta tadi malam sekalian, tapi teman-teman mengatakan agar saya beristirahat dulu," lanjutnya. Yang jelas, pemeriksaan segera dilakukan. Bisa kemarin sore, malam, di KPK atau hari ini (11/1).

Untuk saat ini, dia belum bisa menyimpulkan apa pun terkait teror tersebut. Dia menyerahkan semua penilaian kepada pihak kepolisian dalam rangka pengungkapan kasus. Dia berjanji, pimpinan ataupun staf KPK akan membantu apa pun yang diperlukan Polri terkait penanganan kasus itu.

Disinggung mengenai pengamanan terhadap pimpinan KPK, Agus menyatakan, peningkatan pengamanan diberlakukan sejak kasus sebelumnya. Dalam hal ini, sejak kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. "Seperti di tempat saya, ada (unsur pengamanan) yang selalu tinggal di rumah," tutur Agus.

Sementara itu, langkah perbaikan kualitas pengamanan terhadap petugas KPK juga, menurut dia, harus terus dilakukan. Baik untuk petugas di bagian penyelidikan, penyidikan, maupun penuntutan. "Kami juga sedang mengevaluasi misalnya nanti ada beberapa petugas KPK yang akan dilengkapi dengan senjata (api) tertentu," ucapnya.

Namun, dia belum bersedia berbicara lebih jauh tentang mekanisme maupun jenis senjata yang akan digunakan. Evaluasi itu diperkirakan bakal tuntas dalam waktu dekat. Pihaknya tidak ingin menduga-duga sebelum kasus teror itu mendapatkan bukti-bukti yang jelas.

Di tempat terpisah, Presiden Joko Widodo mengaku sudah memerintah Tito untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Menurut dia, tindakan itu merupakan intimidasi kepada aparat penegak hukum. "Saya rasa tidak ada toleransi untuk itu, kejar dan cari pelakunya," kata Jokowi di gudang Bulog, Jakarta, kemarin (10/1).

Disinggung mengenai perlunya peningkatan standar keamanan bagi pimpinan dan penyidik KPK, Jokowi mengaku sudah memerintahkan sejak lama. Bahwa dari sisi keamanan harus diberikan pendampingan ekstra. "Tapi, kalau masih ada kejadian, ya cari agar semuanya menjadi jelas dan gamblang siapa pelakunya," imbuh dia.

Mantan wali kota Solo itu juga meyakini, teror yang kembali menimpa KPK tidak akan menyurutkan upaya kerja KPK. "Saya yakini, pemberantasan korupsi tidak kendor dengan teror seperti ini," ucapnya.

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (idr/tyo/byu/far/c10/agm)

Alur Cerita Berita

Bumerang untuk Pimpinan KPK 11 Januari 2019, 15:57:03 WIB
Duar! Satu Bom Molotov di Rumah Laode Meledak 11 Januari 2019, 15:57:03 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up