JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kasus Suap Eks Dirut Garuda Indonesia

KPK Telusuri Aset Eks Dirut Garuda Indonesia di Australia

19 Februari 2019, 02:00:59 WIB
Emirsyah Sattar
Mantan Dirut PT. Garuda Indonesia Emirsyah Satar saat diwawancarai awak media (Muhammad Ali/ Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menelusuri aset mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam kasus dugaan suap pembelian mesin dan pesawat. Penelusuran aset itu setelah KPK melakukan pertemuan dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan di gedung KPK, Jakarta. 

"Itu (aset Emirsyah) menjadi salah satu aspek yang kita diskusikan. Kita juga membangun keamanan bersama dengan pemerintah Australia," kata Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

KPK menduga, sejumlah aset milik Emirsyah yang diduga berasal dari hasil korupsi disimpan di luar negeri, salah satunya di Australia. Pihak Australia menyatakan siap membantu Indonesia untuk menelusuri aset milik Emirsyah dan tersangka korupsi lainnya.

"Karena beberapa kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, beberapa di antaranya ada yang mengenai masalah aset di Australia, dan kita bekerjasama menangani hal itu," ujar Syarif.

Sementara itu, soal penelusuran aset WNI yang berada di Australia disambut baik oleh perwakilan pemerintah Australia. Gary Quinlan selaku perwakilan pemerintah Australia menyatakan siap membantu apapun keperluan KPK, termasuk penelusuran aset tersangka korupsi yang ada di luar negeri.

"Kami telah memiliki sejarah yang sangat lama dengan KPK. Baik itu kerja sama pada tahap awal pendiriannya, dan sekarang kami terus memberikan bantuan yang tepat di seluruh hubungan antara Australia dan Indonesia," tandas Gary.

Untuk diketahui, KPK menetapkan dua tersangka terkait kasus dugaan suap pengadaan mesin dan pesawat di PT Garuda Indonesia. Mereka yakni, Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo yang merupakan Presiden Komisaris PT Mugi Rekso Abadi (MRA). Emirsyah Satar dalam kasus ini diduga menerima suap Euro 1,2 juta dan USD 180 ribu atau senilai total Rp 20 miliar.

Emirsyah diduga menerima barang senilai USD 2 juta yang tersebar di Singapura, Australia, dan Indonesia dari perusahaan manufaktur terkemuka asal Inggris, Rolls Royce. Suap tersebut terkait pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 di PT Garuda Indonesia.

Pemberian suap itu diduga, dilakukan melalui seorang perantara Soetikno Soedarjo selaku beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd yang berlokasi di Singapura.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Muhammad Ridwan

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini