JawaPos Radar | Iklan Jitu

Setelah Ledakan saat Debat Capres

Pengamat Terorisme: Ada yang Kesal bila Ini Disebut Kecolongan

19 Februari 2019, 13:55:02 WIB
Pengamat Terorisme: Ada yang Kesal bila Ini Disebut Kecolongan
Aparat kepolisian mengamankan lokasi ledakan di sekitar Parkir Timur Senayan, Minggu (17/2) malam. (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Polisi belum mampu mengungkap kasus ledakan di area Parkir Timur Senayan saat debat capres Minggu malam (17/2). Kendati suara ledakan sangat keras, polisi tetap menyebut ledakan itu berasal dari petasan. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, Polda Metro Jaya masih melakukan penyelidikan.

Hasil penyelidikan itu akan menjadi pijakan untuk menentukan langkah selanjutnya. "Kita tunggu fakta hukum apa yang ditemukan," ujar jenderal bintang satu tersebut.

Karena hasil penyelidikan belum keluar, dia meminta ledakan petasan itu tidak dikaitkan dengan debat capres. Akan lebih baik bila semuanya menunggu proses penyelidikan. "Hingga saat ini belum ada kaitannya sama sekali," terangnya kemarin.

Pengamat Terorisme: Ada yang Kesal bila Ini Disebut Kecolongan
Aparat kepolisian mengamankan lokasi ledakan di sekitar Parkir Timur Senayan, Minggu (17/2) malam. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Menurut dia, polisi masih memeriksa bahan peledak dalam petasan tersebut di Puslabfor. Selain itu, closed circuit television (CCTV) di sekitar lokasi kejadian diperiksa. "Tim bekerja, cek partikelnya apa," ungkapnya.

Sementara itu, pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan bahwa ledakan itu disebut berasal dari petasan karena mungkin skalanya seperti petasan. "Namun, saya meyakini itu bom. Mungkin ada yang kesal bila ini disebut kecolongan," ujarnya. Sangat mungkin pelaku merupakan kelompok yang antidemokrasi. Selama ini yang dikenal paling anti dengan demokrasi adalah kelompok radikal Islam. "Dan yang paling ngedumel soal pemilu itu Jamaah Ansharut Daulah (JAD)," terangnya.

Memang ada kelompok antidemokrasi lain. Namun, kelompok tersebut telah terserap ke salah satu kubu calon presiden. "Entah ke kubu nomor 01 atau 02. Jadi, kemungkinan tinggal JAD," paparnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Dia mengingatkan, pemilu pada April mendatang bisa menjadi sasaran. Khususnya di Poso yang masih ada Mujahidin Indonesia Timur (MIT). "Bila ada ancaman seperti baku tembak, bisa jadi masyarakat Poso tidak ke TPS. Itulah yang paling dikhawatirkan," ungkapnya.

Dalam kondisi pesta demokrasi saat ini, alangkah baiknya Polri tidak lagi hanya memantau kelompok teroris. Bila memang diketahui adanya anggota kelompok teroris, sebagai antisipasi mereka bisa segera ditangkap. "Buat apa menunggu lagi. Apalagi sudah resmi menjadi organisasi terlarang," jelasnya. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (idr/c6/oni)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini