
AUGUSTINUS SIMANJUNTAK
LEBIH Pancasilais mana bisnis di Indonesia dibandingkan dengan bisnis di negara-negara maju? Secara simbolis dan slogan, kita memang lebih Pancasilais. Tetapi, secara substansial, perilaku bisnis di negara-negara maju masih lebih Pancasilais dibandingkan di negara kita. Buktinya, peringkat indeks persepsi korupsi Indonesia (2021) masih di urutan ke-96 dari 180 negara. Peringkat sepuluh besar (terbersih korupsi) umumnya ditempati oleh negara-negara yang bisnisnya maju, seperti Denmark, Finlandia, Norwegia, Swiss, dan Singapura.
Peringkat ini berdasar survei yang dilakukan Transparency International (TI) terhadap ahli dan para pebisnis dunia. Korupsi itu jelas melawan ajaran Tuhan (sila ke-1), memicu kemiskinan yang berujung pada pelanggaran hak asasi manusia (sila ke-2), dan merusak semangat persatuan lewat konflik rebutan kekuasaan (sila ke-3). Korupsi juga merusak kualitas demokrasi (sila ke-4) akibat money politics serta merusak keadilan pembangunan di segala bidang (sila ke-5).
Yang salah bukan Pancasila, melainkan manusianya. Pancasila masih sering dijadikan sebagai bahan retorika, buku teoretis, dan bahan seminar yang menghabiskan anggaran. Korupsi membuat sebagian warga tak berdaya menjadi agen perubahan (transformator) dalam moral bisnis. Bahkan, koruptor pun kadang sangat fasih berbicara tentang ideologi Pancasila untuk dibenturkan dengan ideologi lain sebagai bahan bakar kampanye. Akibatnya, Pancasila belum sepenuhnya bertransformasi ke dalam peradaban bisnis dan birokrasi.
Idealnya, jika kita percaya Tuhan sebagai sumber standar moral dan perikemanusiaan tertinggi, bisnis di Indonesia seharusnya konsisten dengan standar mulia itu. Ya, lebih takut kepada Tuhan. Salah satu kunci kemajuan bisnis di negara maju ialah gerakan transformasi (mengubah mindset) para pihak yang terlibat (stakeholders) ke arah yang kian berintegritas, empati, inovatif/kreatif, plus higher purpose. Di era transformasional bisnis, produsen berkelas dunia umumnya berkomitmen mengubah pola pikir pelanggan dengan iklan yang edukatif serta kualitas produk yang menambah nilai hidup pelanggan.
Bahkan, puncak edukasi produsen ke pelanggan ialah ketika produsen menjaga citra produknya walaupun pelanggan telah membeli produk itu. Misalnya, beberapa hari lalu penyanyi Justin Bieber masuk daftar blacklist Ferrari seumur hidup (untuk mobil Ferrari lainnya). Sebab, Justin dengan sembarangan mengubah warna mobilnya (Ferrari 458) dari putih menjadi biru neon. Produsen mobil berstandar tinggi tersebut memberikan dampak transformasional kepada konsumen supaya menghargai sebuah karya (produk) agung dari sebuah bisnis yang berintegritas tinggi.
Sikap Ferrari ini sebenarnya sesuai dengan pengamalan butir ke-10 sila ke-5 Pancasila, yaitu suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Juga butir ke-9 yang berkata: suka bekerja keras. Terkait integritas bisnis, misalnya, kita juga memiliki butir ke-8 sila ke-2 yang berbunyi: berani membela kebenaran dan keadilan. Sayang, butir-butir Pancasila yang agung seperti itu seolah tenggelam seiring dengan budaya korupsi. Ini berdampak pula terhadap kesejahteraan pekerja (buruh) dan masyarakat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022