Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed, Ph.D. (dok. pribadi)
SIANG hari bulan Ramadhan selalu memiliki suasana yang khas di banyak kota dan desa di Indonesia. Jalanan mungkin tidak seramai hari biasa. Sebagian rumah makan menutup tirai. Di sudut-sudut kampung, aroma masakan mulai terasa menjelang sore. Di masjid dan mushala, aktivitas ibadah meningkat.
Namun pada saat yang sama, kehidupan tetap berjalan. Pedagang tetap mencari nafkah. Pekerja tetap menjalankan tugas. Masyarakat menjalani realitas sosial yang beragam. Dalam ruang sosial yang kompleks inilah Ramadhan diuji, bukan hanya sebagai ibadah spiritual, tetapi juga sebagai praktik kemanusiaan.
Ramadhan adalah momentum spiritual sekaligus momentum sosial ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Perputaran ekonomi selama Ramadhan 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari Rp 750 triliun. Penghimpunan zakat nasional juga terus meningkat setiap tahun dan telah mencapai puluhan triliun rupiah.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah individual. Ramadhan adalah peristiwa sosial besar yang menggerakkan solidaritas, redistribusi kesejahteraan, dan penguatan kohesi sosial masyarakat.
Besarnya energi sosial Ramadhan seharusnya tecermin dalam praktik kemanusiaan di ruang publik. Namun dalam beberapa kasus, masih muncul praktik-praktik ekstrem yang justru bertentangan dengan esensi kemanusiaan Ramadhan.
Salah satu fenomena yang kerap muncul adalah tindakan razia terhadap warung makan yang buka pada siang hari dengan dalih menjaga kesucian bulan suci. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan moral yang penting.
Apakah kesucian Ramadhan memang harus dijaga melalui tekanan sosial. Ataukah kesucian Ramadhan justru lahir dari kesadaran moral, keteladanan sosial, dan penguatan empati kemanusiaan.
Puasa pada hakikatnya adalah latihan pengendalian diri. Puasa mengajarkan manusia untuk menahan lapar, menahan amarah, menahan ego, dan menahan dorongan untuk merasa paling benar. Dalam perspektif etika keagamaan, ibadah yang dipaksakan melalui tekanan sosial kehilangan dimensi spiritualnya.
Puasa tidak pernah dimaksudkan sebagai proyek pengawasan sosial. Puasa adalah proses pembentukan kesadaran moral personal yang kemudian memancar menjadi kesalehan sosial.
Kesalahan memahami makna puasa dapat melahirkan praktik ekstremisme moral dalam kehidupan sehari hari. Ekstremisme ini sering tidak hadir dalam bentuk kekerasan besar, tetapi muncul dalam bentuk tekanan sosial, penghakiman moral, dan tindakan yang mengabaikan martabat manusia. Ketika semangat beribadah berubah menjadi keinginan mengontrol perilaku orang lain secara paksa, maka esensi spiritual Ramadhan mulai bergeser.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan rahmah. Rahmah bukan hanya berarti kasih sayang kepada sesama Muslim, tetapi kepada seluruh manusia. Dalam realitas sosial, tidak semua orang berpuasa karena berbagai alasan. Ada alasan kesehatan. Ada alasan pekerjaan.
Ada alasan kondisi biologis. Ada pula masyarakat non Muslim yang tetap hidup berdampingan dalam ruang sosial yang sama. Ramadhan seharusnya memperkuat empati sosial terhadap keragaman kondisi manusia, bukan menjadi ruang penghakiman sosial.
Salah satu kekuatan terbesar Ramadhan justru terletak pada tradisi berbagi. Pembagian takjil gratis di jalan, peningkatan zakat, sedekah, dan infak, serta berbagai gerakan bantuan sosial menunjukkan bahwa Ramadhan bekerja sebagai mekanisme redistribusi sosial yang nyata.
Dalam banyak kasus, redistribusi ini terjadi tanpa birokrasi yang rumit. Bantuan mengalir langsung dari masyarakat kepada masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bahwa solidaritas sosial dapat lahir dari kesadaran moral kolektif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022