Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 02.31 WIB

Industri Otomotif Dunia Terdesak Kecepatan Tiongkok, dari Dominasi EV hingga Ekspansi ke Eropa di Tengah Perang Harga

Dominasi kendaraan listrik Tiongkok semakin menjadi sorotan global di tengah ketegangan geopolitik dan konflik Iran yang mengguncang pasar energi dunia (The Guardian) - Image

Dominasi kendaraan listrik Tiongkok semakin menjadi sorotan global di tengah ketegangan geopolitik dan konflik Iran yang mengguncang pasar energi dunia (The Guardian)

JawaPos.com - Persaingan industri otomotif global kini memasuki fase paling ketat dalam dua dekade terakhir. Produsen besar dari Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang menghadapi tekanan yang kian berat seiring meningkatnya keunggulan perusahaan-perusahaan Tiongkok, tidak hanya pada kendaraan listrik, tetapi juga pada teknologi baterai, perangkat lunak, hingga sistem kendaraan pintar yang terintegrasi.

Perubahan ini juga terlihat dari cepatnya transformasi di lini produksi. Pabrik-pabrik otomotif di Tiongkok kini mengandalkan otomatisasi tingkat tinggi yang menggabungkan robotika dan pengembangan perangkat lunak dalam satu ekosistem produksi yang efisien, sehingga menghasilkan kecepatan manufaktur yang sulit disaingi oleh produsen global tradisional.

Dilansir dari BBC, Kamis (28/5/2026), yang melakukan kunjungan ke fasilitas produksi di Beijing dan Hefei di sela gelaran Auto China 2026, ditemukan bahwa tingkat otomatisasi dan kecepatan pengembangan perangkat lunak di pabrik-pabrik Tiongkok telah melampaui banyak produsen asing yang sebelumnya mendominasi pasar global. Kondisi ini menandai pergeseran signifikan dalam pusat inovasi industri otomotif dunia.

Tekanan tersebut juga diakui langsung oleh para pemimpin industri global. "Kami tidak punya peluang menghadapi ini," ujar Chief Executive Honda Toshihiro Mibe setelah meninjau pabrik terotomatisasi tinggi di Shanghai.

Sementara itu, Chief Executive Ford Jim Farley menilai bahwa para produsen Barat kini berada "dalam perjuangan untuk bertahan hidup" menghadapi ekspansi agresif pesaing dari Tiongkok.

Menurut analis otomotif yang berbasis di Shanghai, Bill Russo, kesalahan utama negara-negara maju adalah memandang transisi industri ini hanya sebatas pergeseran menuju kendaraan listrik.

"Kesalahan terbesar yang dilakukan negara-negara maju adalah meyakini bahwa transisi ini hanya soal mobil listrik. Padahal, ini tentang siapa yang akan memimpin generasi berikutnya dari teknologi mobilitas," ujarnya.

Keunggulan Tiongkok juga ditopang oleh struktur rantai pasok yang luas serta biaya produksi yang lebih rendah. International Energy Agency memperkirakan bahwa produksi SUV listrik kecil di Tiongkok dapat lebih murah sedikitnya 30 persen dibandingkan negara maju, terutama karena efisiensi baterai dan integrasi industri yang sudah matang.

Di sisi lain, kecepatan inovasi juga terlihat pada perusahaan-perusahaan baru seperti Xiaomi, yang mampu menghasilkan satu unit kendaraan setiap 76 detik di pabriknya di luar Beijing. Meski baru memasuki pasar kendaraan listrik pada 2024, perusahaan ini cepat naik menjadi pemain penting berkat integrasi ekosistem kendaraan dengan ponsel dan perangkat rumah pintar.

Inovasi serupa juga datang dari BYD dengan teknologi pengisian daya ultra-cepat yang mampu menambah jarak hingga 400 kilometer hanya dalam sekitar lima menit.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore