Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Juli 2026 | 14.28 WIB

Meutya Hafid: Transformasi Digital Harus Jaga Budaya, Bukan Sekadar Kejar Teknologi

Menkomdigi Meutya Hafid. (Dok. Komdigi) - Image

Menkomdigi Meutya Hafid. (Dok. Komdigi)

JawaPos.com - Indonesia menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi sarana melestarikan kekayaan budaya nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menilai ruang digital harus mampu mengakomodasi bahasa daerah, pengetahuan masyarakat adat, dan komunitas lokal agar berkembang seiring kemajuan teknologi.

Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan transformasi digital tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi maupun besarnya nilai ekonomi digital, melainkan juga oleh kemampuannya menjaga keragaman budaya, memperluas akses masyarakat, dan menghadirkan manfaat yang merata.

"Teknologi digital harus menjadi jembatan antara inovasi dan kebudayaan. Bahasa lokal, pengetahuan adat, dan komunitas lokal harus menjadi bagian dari masa depan digital," ujar Meutya saat berbicara dalam WSIS Forum 2026 Ministerial Roundtable dikutip Minggu (12/7).

Dalam kesempatan yang sama, Indonesia mengajak negara-negara lain memperkuat kerja sama global agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara lebih merata. Menurut pemerintah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, alih teknologi, pembiayaan yang berkelanjutan, serta keterlibatan negara berkembang dalam penyusunan tata kelola digital dunia menjadi faktor penting untuk menciptakan transformasi digital yang inklusif.

Meutya mengatakan pemerintah terus memperkuat ekosistem digital nasional melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan literasi dan keterampilan digital, penguatan tata kelola data, peningkatan keamanan siber, pengembangan infrastruktur digital publik, hingga pemanfaatan teknologi-teknologi baru. Berbagai upaya tersebut juga diselaraskan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 guna menghadirkan layanan publik yang semakin mudah dijangkau dan berkualitas.

Sebagai bentuk implementasi, pemerintah telah mengoperasikan Satelit SATRIA-1, mengoptimalkan jaringan Palapa Ring, serta memperluas cakupan layanan 5G untuk memperkuat konektivitas di berbagai wilayah Indonesia.

"Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar menghadirkan konektivitas. Transformasi digital harus menciptakan produktivitas, membuka peluang ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat," kata Meutya.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mengembangkan ekonomi digital nasional yang saat ini bernilai sekitar 100 miliar dolar AS atau hampir sepertiga dari total ekonomi digital ASEAN. Nilai tersebut ditargetkan meningkat menjadi 200 miliar dolar AS pada 2030.

Bersamaan dengan pertumbuhan tersebut, pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat di ruang digital melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore