Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Oktober 2023 | 19.26 WIB

Wow, Ternyata Membeli Mobil di Singapura Bisa Merogoh Kocek Sebesar Rp 1 M?

Pemandangan mobil bekas yang akan dijual di Singapura.(Sumber: REUTERS/Edgar Su) - Image

Pemandangan mobil bekas yang akan dijual di Singapura.(Sumber: REUTERS/Edgar Su)

JawaPos.com - Untuk memiliki mobil di Singapura, pembeli harus memiliki sertifikat yang sekarang berharga USD 106.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar, setara dengan empat Toyota Camry Hybrid di Amerika Serikat, karena pemulihan pasca pandemi telah meningkatkan biaya pembelian mobil di negara tersebut.

Singapura memiliki sistem 'Certificate of Entitlement' (COE) yang berlaku selama 10 tahun, yang diperkenalkan pada 1990, untuk mengendalikan jumlah kendaraan di negara kecil tersebut, yang merupakan rumah bagi 5,9 juta orang.

Kuota tersebut, yang ditawarkan melalui proses penawaran, menjadikannya kota termahal di dunia untuk membeli mobil, dengan COE untuk mobil berukuran besar meningkat empat kali lipat dari 2020 menjadi SGD 146.002 atau setara dengan Rp 1,6 miliar pada Rabu (4/10).

Termasuk COE, biaya pendaftaran dan pajak, standar baru Toyota Camry Hybrid saat ini berharga USD 183.000 setara dengan Rp 2 miliar di Singapura.

Perbandingan paling signifikan juga terjadi dengan flat kecil yang disubsidi pemerintah, jika di Amerika dibanderol dengan harga USD 28.855 atau setara dengan Rp 450 juta, di Singapura Anda harus merogoh kocek seharga SGD 125.000 yang setara dengan Rp 1,4 miliar.

Pada 2020, ketika lebih sedikit orang di Singapura yang mengemudi, harga COE turun menjadi sekitar SGD 30.000 atau setara dengan Rp 340 juta.

Peningkatan aktivitas ekonomi pasca COVID telah menyebabkan lebih banyak pembelian mobil sementara jumlah total kendaraan di jalan dibatasi sekitar 950.000.

Jumlah COE baru yang tersedia bergantung pada berapa banyak mobil lama yang dicabut pendaftarannya.

Melonjaknya harga mobil membuat mobil jauh dari jangkauan sebagian besar masyarakat kelas menengah Singapura, sehingga melemahkan apa yang disebut oleh sosiolog, Tan Ern Ser sebagai 'Singapore Dream' berupa kepemilikan uang tunai, kondominium, dan mobil untuk masyarakat kelas atas.

Gaji rata-rata rumah tangga di Singapura adalah SGD 121.188 atau setara dengan Rp 1,3 miliar.

Warga Singapura terpukul oleh inflasi yang terus menerus dan perlambatan ekonomi, dan beberapa di antara mereka menjual mobil yang mereka beli ketika harga COE sedang rendah untuk mendapatkan keuntungan.

"Ada perubahan untuk menurunkan aspirasi seseorang dari mencapai 'kehidupan yang baik' menjadi 'kehidupan yang cukup baik'," kata Tan.

Jason Guan, 40, seorang agen asuransi dan ayah dua anak, mengatakan dia membeli mobil pertamanya, Toyota Rush, seharga SGD 65.000 yang setara dengan Rp 740 juta pada 2008, termasuk COE.

Kini Guan hidup tanpa mobil, fokus pada fasilitas lain yang ditawarkan di Singapura untuk keluarganya.

"Sebagai seorang family man, hal ini tidak terlalu berpengaruh bagi saya karena Singapura masih memiliki sistem pendidikan yang baik dan stabil. Dari segi keamanan, masih menjadi salah satu negara teraman," ujarnya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore