Ilustrasi mobil matic. (Spinny)
JawaPos.com-Mobil matic sering kali jadi bahan perdebatan di kalangan pecinta otomotif. Ada yang bilang boros bahan bakar, tarikan lemot, sampai perawatan yang bikin kantong jebol.
Padahal, sebagian besar anggapan tersebut hanyalah mitos yang sudah ketinggalan zaman. Dengan teknologi otomotif yang semakin canggih, mobil matic masa kini jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Sayangnya, masih banyak pengemudi yang terjebak dalam informasi keliru seputar transmisi otomatis. Akibatnya, mereka ragu beralih dari mobil manual ke matic, padahal banyak keuntungan yang bisa didapat.
Inilah 8 mitos mobil matic yang sudah saatnya dibongkar seperti dirangkum dari laman Suzuki Indonesia!
1. Boros Bahan Bakar
Dulu, mobil matic memang terkenal lebih boros dibanding mobil manual karena teknologi mesinnya belum efisien. Tapi sekarang, sistem injeksi modern, sensor pintar, dan ECU membuat konsumsi bensin mobil matic bisa sangat hemat, bahkan ada MPV matic yang tembus 1:12 km/liter. Kalau pengemudi manual sering tancap gas di putaran tinggi, justru konsumsi bahan bakarnya bisa lebih boros dari matic.
2. Perawatan Selalu Mahal
Banyak yang mengira biaya perawatan matic pasti lebih mahal. Faktanya, selama dirawat sesuai rekomendasi pabrik, seperti rutin ganti oli, cek sistem pendingin, dan bersihkan filter, usia transmisi otomatis bisa seawet mobil manual. Memang, kalau sampai rusak biayanya bisa lebih besar, tapi kerusakan itu umumnya akibat lalai perawatan.
3. Tenaga Loyo
Transmisi matic jadul memang cenderung lamban, sehingga pabrikan dulu harus menambah kapasitas mesin untuk mengimbanginya. Kini, dengan hadirnya teknologi CVT, akselerasi mobil matic jauh lebih responsif dan nyaman. Performa yang dihasilkan pun tak kalah dari manual, bahkan terasa lebih halus.
4. Tidak Boleh Diderek
Matic boleh saja diderek, tapi ada aturannya. Posisi penggerak harus diketahui terlebih dahulu. Kalau mobil berpenggerak roda depan, roda depan dan belakang harus diangkat bersamaan, begitu pula sebaliknya. Tujuannya untuk menghindari kerusakan pada katup transmisi. Pastikan tuas di posisi netral (N) dan mesin mati saat proses derek.
5. Tidak Aman Memanaskan Mesin di Posisi P
Banyak yang percaya memanaskan mesin di posisi P itu salah. Faktanya, justru posisi P atau N aman digunakan saat memanaskan mobil karena oli tetap bersirkulasi. Bahkan posisi P lebih direkomendasikan demi keamanan, agar mobil tidak bergerak tiba-tiba. Yang perlu dihindari adalah menekan pedal gas berlebihan saat pemanasan, karena tidak akan membuat mesin lebih cepat panas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022