
Ilustrasi: Gas motor terasa berat, bisa jadi karena masalah ini. (ProXRacingParts).
JawaPos.com - Tarikan gas motor yang tiba-tiba melemah sering bikin panik pengendaranya. Padahal kenyataannya, penurunan performa itu tidak muncul dalam semalam.
Ada banyak faktor yang pelan-pelan merusak kenyamanan berkendara tanpa disadari. Mulai dari hal yang sepele, seperti oli terlambat diganti, sampai masalah teknis yang memengaruhi pembakaran dan penyaluran tenaga.
Dengan memahami penyebab-penyebab paling umum di balik tarikan gas yang terasa berat, kamu bisa lebih mudah menentukan bagian mana dari motor yang perlu dicek atau diservis. Pengetahuan sederhana ini juga bisa mencegah kerusakan yang lebih mahal di kemudian hari karena sudah tahu sinyal dini yang harus diwaspadai.
Berikut 7 faktor utama yang mempengaruhi tarikan gas motor seperti dirangkum dari laman Suzuki Indonesia!
Oli berfungsi melumasi dan mengalirkan panas. Kalau kamu melewati batas pakainya, kondisi oli jadi menurun drastis dan tidak mampu lagi melindungi komponen di dalam mesin. Akibatnya gesekan meningkat, mesin jadi lebih panas, dan crankshaft terasa lebih berat diputar. Inilah yang membuat tarikan gas motor serasa loyo meski kamu sudah memutar gas lebih dalam.
Oli yang sudah terlalu lama juga membawa partikel logam hasil gesekan komponen, yang lama-kelamaan bisa menggores dinding silinder dan mempercepat ausnya ring piston atau noken as.
Banyak orang takut mengisi oli kurang, padahal mengisi terlalu penuh justru bikin masalah baru. Oli yang melebihi kapasitas menyebabkan tekanan crankcase meningkat dan membuat piston bergerak lebih berat. Selain itu, volume oli berlebih memicu munculnya gelembung udara dalam sistem pelumasan sehingga proses pelumasan jadi tidak maksimal. Mesin pun bekerja lebih panas dan tarikan terasa menurun.
Filter udara yang dipenuhi debu menghambat suplai udara ke ruang bakar. Karena pembakaran membutuhkan udara yang cukup, mesin yang kekurangan udara otomatis menghasilkan tenaga lebih kecil. Ini membuat motor terasa berat saat digas. Pada motor injeksi, kondisi ini lebih sensitif karena sensor udara dan injektor butuh aliran udara yang stabil. Filter udara yang kotor bukan hanya bikin tarikan berat, tapi juga boros bensin.
Busi yang aus membuat percikan api jadi kecil sehingga pembakaran tidak terjadi secara optimal. Tarikan gas pun terasa kurang galak, terutama saat start awal atau di tanjakan. Selain busi, komponen seperti koil, kabel busi, sampai CDI juga berpengaruh. Pada motor modern, gangguan kecil di sensor pengapian bisa menggeser timing pembakaran dan membuat mesin terasa berat.
Mesin boleh sehat, tapi kalau penyaluran tenaga bermasalah, tarikan tetap terasa lambat. Pada motor manual, rantai yang kendor atau aus membuat tenaga tidak tersalur sepenuhnya. Pada motor matic, v-belt getas, roller aus (jadi kotak), atau kampas ganda yang selip akan sangat memengaruhi akselerasi. Mesin akhirnya harus bekerja lebih keras dari yang seharusnya.
Setiap pembakaran selalu menghasilkan residu karbon. Lama-kelamaan, kerak ini menumpuk di ruang bakar, kepala silinder, katup, hingga piston. Penumpukan karbon membuat ruang kompresi mengecil dan rasio kompresi berubah, sehingga pembakaran menjadi tidak stabil. Mesin pun terasa berat meski masih bisa hidup normal. Panas yang tidak merata juga meningkatkan risiko knocking.
Klep mengatur udara masuk dan gas buang keluar. Kalau celah klep terlalu sempit, klep tidak menutup sempurna dan kompresi bocor. Kalau terlalu longgar, suara mesin kasar dan aliran udara tidak optimal.
Dua kondisi ini sama-sama bikin tarikan terasa lemot. Kondisi kompresi juga dipengaruhi oleh ring piston dan dinding silinder. Jika kompresi turun, tenaga mesin jadi datar dan kemampuan menanjak melemah. Karena itu pengecekan kompresi berkala penting untuk mengetahui sehat-tidaknya mesin.
