
seseorang yang terbiasa produktif./Freepik/Dragana Stock
JawaPos.com - Di era modern yang serba cepat, multitasking sering dianggap sebagai keterampilan penting—bahkan simbol produktivitas.
Banyak orang tua menjalani hari-hari mereka dengan mengerjakan beberapa hal sekaligus: bekerja sambil mengurus rumah, menjawab pesan sambil menemani anak, atau bahkan berpikir tentang pekerjaan saat sedang bersama keluarga.
Tanpa disadari, pola ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup orang tua, tetapi juga membentuk kepribadian anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan tersebut.
Menurut perspektif psikologi perkembangan, anak adalah pengamat ulung. Mereka belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua terus-menerus terlihat sibuk dan terbagi fokusnya, anak akan menyerap pola tersebut dan membentuk cara berpikir, merasakan, serta bertindak di masa depan.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/3). terdapat tujuh kepribadian yang sering berkembang pada anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan multitasking intens.
1. Terbiasa Merasa Harus Selalu Produktif
Anak-anak ini cenderung tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa banyak hal yang bisa mereka kerjakan. Mereka merasa tidak nyaman saat beristirahat, karena sejak kecil melihat bahwa “diam” berarti tidak produktif.
Di masa dewasa, mereka bisa menjadi pekerja keras, tetapi juga rentan mengalami kelelahan mental (burnout).
2. Sulit Fokus pada Satu Hal
Karena terbiasa melihat perhatian orang tua yang terbagi, anak mungkin menginternalisasi bahwa melakukan banyak hal sekaligus adalah norma. Akibatnya, mereka kesulitan memberikan fokus penuh pada satu tugas.
Ini bisa berdampak pada kemampuan belajar, kualitas pekerjaan, bahkan hubungan sosial yang membutuhkan kehadiran penuh.
3. Mencari Perhatian dengan Cara Ekstrem
Ketika orang tua sering sibuk, anak bisa merasa kurang diperhatikan. Sebagai respons, mereka mungkin mengembangkan perilaku untuk menarik perhatian—baik secara positif (berprestasi tinggi) maupun negatif (berulah).
Kebutuhan akan perhatian ini sering terbawa hingga dewasa, misalnya dalam bentuk kebutuhan validasi yang tinggi dari orang lain.
4. Mandiri Sejak Dini
Sisi positifnya, anak-anak ini sering menjadi sangat mandiri. Mereka belajar mengurus diri sendiri karena orang tua tidak selalu tersedia secara penuh.
Namun, kemandirian ini kadang datang bersama perasaan “harus kuat sendiri” dan kesulitan untuk meminta bantuan di kemudian hari.
5. Cenderung Cemas atau Overthinking
Lingkungan yang penuh distraksi bisa membuat anak merasa tidak stabil secara emosional. Mereka mungkin bertanya-tanya apakah mereka cukup penting untuk mendapatkan perhatian penuh.
Hal ini dapat berkembang menjadi kecemasan, overthinking, atau kebutuhan untuk selalu memastikan segala sesuatu berjalan “sempurna”.
6. Sangat Adaptif dan Fleksibel
Anak yang terbiasa dengan situasi dinamis akan menjadi pribadi yang mudah beradaptasi. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dan sering kali memiliki kemampuan problem solving yang baik.
Namun, fleksibilitas ini kadang membuat mereka sulit menetapkan batasan, karena terbiasa “mengikuti arus”.
7. Kesulitan Menikmati Momen
Karena tumbuh dalam lingkungan yang selalu bergerak cepat, anak-anak ini mungkin kesulitan untuk benar-benar hadir dalam suatu momen. Mereka terbiasa berpikir tentang hal berikutnya, bukan menikmati apa yang sedang terjadi.
Akibatnya, mereka bisa merasa hidup berjalan cepat tanpa benar-benar merasakan kepuasan atau kebahagiaan yang mendalam.
Refleksi: Multitasking Bukan Hanya Tentang Efisiensi
Penting untuk dipahami bahwa multitasking bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Dalam banyak situasi, hal ini memang diperlukan. Namun, ketika menjadi kebiasaan utama—terutama di depan anak—dampaknya bisa lebih dalam dari yang kita sadari.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan kehadiran yang utuh, meskipun hanya sesaat. Satu momen penuh perhatian sering kali lebih berarti daripada waktu lama yang terbagi-bagi.
Penutup
Kepribadian anak terbentuk dari ribuan momen kecil yang mereka alami setiap hari. Cara orang tua bekerja, berbicara, dan hadir secara emosional akan menjadi “cetak biru” bagi kehidupan anak di masa depan.
Dengan lebih sadar terhadap kebiasaan multitasking, orang tua bisa mulai menciptakan keseimbangan—tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk perkembangan emosional dan psikologis anak.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
