Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Maret 2026 | 03.30 WIB

Anak Tumbuh sebagai 'Penerjemah' Orang Tua, Biasanya Mengembangkan 7 Keterampilan Tak Terlihat Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh sebagai penerjemah orang tua./Freepik/dragonimages - Image

seseorang yang tumbuh sebagai penerjemah orang tua./Freepik/dragonimages

JawaPos.com - Di banyak keluarga, terutama yang menghadapi perbedaan bahasa, budaya, atau bahkan konflik komunikasi, ada satu peran yang sering muncul secara diam-diam: anak sebagai “penerjemah.”

Anak ini menjadi jembatan antara dua orang tua yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif—baik karena perbedaan bahasa literal maupun perbedaan cara berpikir dan emosi.

Sekilas, ini mungkin terlihat seperti tanggung jawab kecil. Namun dalam psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep parentification, yaitu ketika anak mengambil peran orang dewasa dalam keluarga.

Meskipun dapat membawa beban emosional, pengalaman ini juga membentuk sejumlah keterampilan unik yang sering tidak terlihat—bahkan oleh diri mereka sendiri.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/3), terdapat tujuh keterampilan tak terlihat yang sering berkembang pada anak-anak yang tumbuh dalam peran ini.

1. Kecerdasan Emosional yang Tinggi

Anak yang terbiasa menjadi penerjemah tidak hanya menerjemahkan kata-kata, tetapi juga emosi. Mereka belajar membaca nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh untuk memahami maksud sebenarnya dari orang tua mereka.

Akibatnya, mereka tumbuh dengan kemampuan mengenali emosi orang lain secara mendalam. Mereka tahu kapan seseorang sedang marah, sedih, atau menyembunyikan sesuatu—bahkan tanpa kata-kata.

Namun, sisi lain dari kemampuan ini adalah mereka sering menjadi terlalu sensitif terhadap suasana hati orang lain, hingga terkadang mengabaikan perasaan mereka sendiri.

2. Kemampuan Komunikasi yang Adaptif

Karena harus menjembatani dua pihak, anak-anak ini belajar menyesuaikan cara berbicara mereka dengan cepat. Mereka tahu bagaimana menyederhanakan pesan, memilih kata yang tepat, dan bahkan “melembutkan” konflik agar tidak semakin membesar.

Kemampuan ini membuat mereka sangat fleksibel dalam komunikasi sosial. Di masa dewasa, mereka sering menjadi komunikator yang efektif—baik dalam pertemanan, hubungan, maupun dunia kerja.

3. Empati yang Mendalam

Menjadi perantara membuat anak memahami perspektif dari dua sisi sekaligus. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga mencoba merasakan apa yang dirasakan masing-masing orang tua.

Hal ini menumbuhkan empati yang kuat. Mereka cenderung menjadi pendengar yang baik dan orang yang mudah dipercaya karena mampu memahami orang lain tanpa menghakimi.

Namun, empati yang berlebihan juga bisa membuat mereka kelelahan secara emosional (emotional burnout), terutama jika tidak belajar menetapkan batasan.

4. Kemampuan Memecahkan Masalah Secara Cepat

Situasi komunikasi yang rumit menuntut solusi instan. Anak harus berpikir cepat: bagaimana menyampaikan pesan tanpa memicu konflik? Bagaimana membuat kedua pihak merasa dipahami?

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore