Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Agustus 2026 | 22.10 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Anak dari Orang Tua Bercerai, Kerap Menolak Bertemu dengan Orang Tuanya

seseorang yang menolak bertemu dengan orang tua./Magnific/magnific - Image

seseorang yang menolak bertemu dengan orang tua./Magnific/magnific

JawaPos.com - Perceraian tidak selalu berakhir ketika surat keputusan pengadilan telah ditetapkan atau ketika kedua orang tua mulai menjalani kehidupan masing-masing. Bagi anak, perceraian dapat menjadi proses psikologis yang berlangsung jauh lebih panjang. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat yang relatif stabil bisa berubah, rutinitas berganti, hubungan dengan ayah atau ibu berubah, dan anak harus beradaptasi dengan keadaan yang tidak pernah mereka pilih.

Dalam situasi seperti ini, sebagian anak kemudian menunjukkan perilaku yang membingungkan bagi orang dewasa. Mereka menolak bertemu dengan salah satu orang tua, tidak mau berkunjung, enggan berbicara melalui telepon, atau bahkan mengatakan bahwa mereka tidak ingin memiliki hubungan dengan orang tua tersebut.

Penolakan semacam ini sering kali langsung ditafsirkan secara sederhana: anak dianggap membenci, keras kepala, dipengaruhi oleh orang tua lainnya, atau sengaja bersikap tidak hormat. Padahal, dari sudut pandang psikologi, perilaku menolak bertemu dapat memiliki banyak penyebab. Perilaku tersebut bisa menjadi cara anak melindungi dirinya, mengelola emosi, mempertahankan rasa aman, atau mendapatkan kembali kendali atas kehidupannya yang terasa tidak terkendali.

Penting pula untuk dipahami bahwa tidak semua anak korban perceraian akan menolak bertemu dengan orang tuanya, dan penolakan tidak selalu berarti hal yang sama. Penyebabnya perlu dilihat berdasarkan usia anak, sejarah hubungan dengan masing-masing orang tua, kondisi perceraian, pola pengasuhan, serta pengalaman anak sebelum dan sesudah perceraian.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa sebagian anak memilih menjauh.

1. Anak Merasa Terluka dan Belum Mampu Mengolah Emosinya

Perceraian dapat memunculkan berbagai emosi sekaligus: sedih, marah, kecewa, takut, bingung, bahkan rasa kehilangan.

Masalahnya, anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjelaskan perasaan tersebut dengan bahasa yang jelas. Anak yang lebih kecil mungkin belum mampu mengatakan, "Aku merasa kehilangan sosok ayah sejak kalian berpisah." Sebaliknya, mereka mungkin hanya mengatakan, "Aku tidak mau ketemu Ayah."

Kalimat tersebut bisa terdengar seperti penolakan terhadap orang tua. Namun, secara psikologis, perilaku itu dapat menjadi ekspresi dari emosi yang lebih kompleks.

Anak mungkin sedang marah karena merasa kehidupannya berubah. Ia mungkin kecewa karena menganggap orang tuanya tidak mampu mempertahankan keluarga. Ia juga mungkin merasa ditinggalkan, meskipun secara faktual orang tua tersebut masih mencintainya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore