Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Desember 2020, 18.41 WIB

Pembelajaran Matematika Perlu Dikemas Menarik

BERHITUNG CARA FUN: Laura Windri Maretha belajar dengan didampingi mamanya, Dwi Agustin. Dengan cara mengajar yang menyenangkan, matematika tak jadi momok. (Allex Qomarulla/Jawa Pos) - Image

BERHITUNG CARA FUN: Laura Windri Maretha belajar dengan didampingi mamanya, Dwi Agustin. Dengan cara mengajar yang menyenangkan, matematika tak jadi momok. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

JawaPos.com–Mata pelajaran matematika masih mendapat cap sebagai momok oleh sebagian siswa. Termasuk di tengah pandemi saat ini. Pembelajaran matematika, baik tatap muka maupun virtual perlu dikemas menarik supaya tidak dipandang menakutkan oleh siswa.

Presiden Direktur Shinkenjuku Keiko Toyoizumi mengatakan, pembelajaran matematika perlu dikemas menarik, khususnya di jenjang SD. Di tengah pandemi seperti sekarang, pembelajaran secara umum dilaksanakan secara online atau daring.

”Belajar secara daring harus dirancang guna memastikan anak dapat memperoleh kemampuan berpikir,” kata Toyoizumi pada Jumat (4/12).

Selain itu, belajar secara daring melatih kemampuan problem solving atau kemampuan memecahkan masalah serta meningkatkan kemandirian anak. Tidak hanya itu, menurut Toyoizumi, anak juga bisa belajar dari mana saja dan tidak mengurangi keseruan anak dalam belajar matematika.

Toyoizumi menambahkan, Shinkenjuku sebagai bimbingan belajar matematika khusus SD secara daring menekankan pada pemahaman konsep. Kemudian penguatan kemampuan berpikir anak. Hal itu guna mendukung keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi paling penting.

”Kami berpegang teguh pada komitmen membantu pendidikan anak-anak Indonesia. Yaitu mengubah proses pembelajarannya yang tadinya tatap muka menjadi servis layanan baru yang diberi nama Shinkenjuku Online,” ujar Toyoizumi.

Shinkenjuku Online mengajak anak mengasah literasi matematika menggunakan modul belajar berisi karakter-karakter menarik. ”Sehingga menemani anak-anak memahami konsep-konsep matematika dalam bentuk cerita,” tutur Toyoizumi.

Pembelajaran interaktif dilaksanakan secara online melalui aplikasi dan komunikasi seperti Google Meet, Zoom dan WhatsApp. Sistem belajar dipandu para fasilitator dalam kelompok kecil maksimal 3 anak dengan durasi waktu sesuai daya konsentrasi anak dan usianya. Mereka juga memberikan layanan Interactive Challenge Session (ICS) yang memberikan kesempatan pada anak untuk menggunakan ilmu yang dimiliki.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=Qogk0DvO2pU

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore