
Ilustrasi perundungan atau bullying. (Freepik)
JawaPos.com - Perundungan masih mengintai anak-anak. Tak hanya di ruang publik, tapi juga di sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, perundungan di sekolah ini seringkali dipicu beberapa hal.
Menurut dia, korban umumnya berada di posisi lebih lemah daripada pelaku. Kemudian, terkait strata sosialnya. Dia pun mengidentifikasi lima kelompok yang paling rentan menjadi sasaran perundungan ini.
Pertama, murid yang secara fisik dianggap lebih lemah, termasuk anak berkebutuhan khusus. Kedua, murid perempuan. Ketiga, murid dari keluarga ekonomi rendah. Menurut dia, kadang cara berpakaian atau penampilan fisik cenderung jadi bahan perundungan.
Baca Juga:Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dalami Dugaan Pemalsuan Riset 'Demi Jalan-jalan Gratis' ke Denmark
Keempat, murid dengan capaian akademik rendah sering memicu olok-olok dari teman lainnya. Terakhir, murid dengan kondisi fisik yang berbeda dengan sebayanya.
”Kita harus melihat sebuah realitas di mana sekolah memang sekarang belum menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita. Berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dan bahkan kalau kita lihat ragam perundungannya dan pelakunya juga semakin beragam,” ujar Abdul Mu’ti dalam seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman bersama Save the Children Indonesia.
Masalah ini pun jadi perhatian serius pihaknya. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa menekan aksi tidak terpuji ini. Di antaranya, menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 soal sekolah aman dan nyaman, mengubah pendekatan di sekolah untuk lebih humanis tak melulu soal hukuman bersifat kekerasan, hingga menggandeng pihak-pihak terkait untuk menekan perundungan tersebut.
Save the Children Indonesia jadi salah satu pihak yang digandeng untuk memerangi bullying di sekolah ini. CEO Save The Children Dessy Kurwiany Ukar mengaku, siap berkolaborasi untuk menciptakan sekolah aman dan nyaman ini. Melalui program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI), pihaknya tengah mengintervensi di lebih dari 500 satuan pendidikan di 8 kabupaten dan 4 provinsi.
”Harus kita akui ya, memang sekolah belum sepenuhnya aman. Melalui kolaborasi ini, kami berkomitmen mendukung pemerintah agar anak tumbuh tanpa kekerasan dan mendapatkan pendidikan berkualitas,” papar Dessy Kurwiany Ukar.

Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 Menit
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Profil Valentin Barco! Pemain Argentina Ditempeleng Jude Bellingham Usai Inggris Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
