
301 pelajar dari 31 provinsi di Indonesia terlibat dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (ist)
JawaPos.com - 301 pelajar dari 31 provinsi di Indonesia terlibat dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Konferensi yang diadakan AYIMUN lewat Taruna Nusantara Model United Nations (MUN) 2026.
Mengusung tema From Taruna Nusantara to the Global Stage konferensi ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan diplomasi, berpikir kritis, negosiasi, serta memahami berbagai isu global.
Diungkapkan Muhammad Fahrizal, President of International Global Network, dunia pendidikan bukan hanya sekadar nilai di atas kertas. Tapi pendidikan untuk mempersiapkan generasi muda untuk berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional juga sangat penting.
“Perjalanan kalian menuju panggung global tidak dimulai suatu hari nanti. Perjalanan itu dimulai ketika kalian mengangkat placard, ketika kalian memilih dialog daripada permusuhan, dan ketika kalian mengubah sebuah gagasan menjadi tindakan. Dan perjalanan itu dimulai di sini,” ucap Fahrizal baru-baru ini.
Secara garis besar, konferensi ini melibatkan enam SMA Taruna Nusantara. Antara lain SMA Taruna Nusantara Magelang, SMA Taruna Nusantara Cimahi, SMA Taruna Nusantara IKN, SMA Taruna Nusantara Langowan, SMA Taruna Nusantara Malang, dan SMA Taruna Nusantara Pagar Alam.
Tapi, konferensi ini juga terbuka untuk sekolah non-Taruna Nusantara. Tercatat 40 sekolah dari Aceh, Bali, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, hingga Papua Barat Daya ikut terlibat.
Dalam konferensi ini, para peserta dibagi ke dalam tiga dewan utama dengan isu yang berbeda.
International Labour Organization (ILO) membahas topik “Addressing Stigma and Discrimination Against Workers with Chronic Illness and Disabilities”, yang mengangkat isu diskriminasi serta kesempatan yang setara bagi pekerja dengan penyakit kronis dan disabilitas.
Sementara itu, United Nations Human Rights Council (UNHRC) membahas “Reassessing the Necessity of the Death Penalty”, yang mengajak peserta melihat kembali isu hukuman mati dari berbagai perspektif hak asasi manusia, keadilan, dan perlindungan terhadap kehidupan.
Adapun Disarmament and International Security Committee (DISEC) membahas “The Good Neighbour: De-escalating Tensions among Cambodia and Thailand”, dengan fokus pada upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antarnegara dan membangun perdamaian serta keamanan regional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Zidane Ingin Menang di Stade de France
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Koordinator BEM UI Diserang OTK di Tebet Jaksel, Sempat Diancam Bunuh
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022