
Timnas Brasil berjuang meraih trofi keenam di Piala Dunia 2026. (ig @brasil)
JawaPos.com - Brasil selalu identik dengan kejayaan Piala Dunia. Lima gelar juara dan sederet legenda telah menjadikan Selecao sebagai salah satu tim paling disegani dalam sejarah sepak bola.
Namun, sejak terakhir kali mengangkat trofi pada 2002, penantian panjang selama 24 tahun mulai terasa semakin berat bagi negara yang menjadikan sepak bola sebagai bagian dari identitas nasional. Menariknya, ada dua pemain dalam skuad Brasil saat ini yang bahkan belum lahir ketika Ronaldo Nazario dan kawan-kawan menjuarai Piala Dunia di Korea Selatan dan Jepang.
Satu generasi penuh tumbuh tanpa pernah melihat negaranya menjadi yang terbaik di dunia. Bagi Brasil, masalahnya bukan sekadar gagal juara. Negeri Samba selama puluhan tahun dikenal bukan hanya karena kemenangan, tetapi juga karena cara mereka meraihnya.
Sepak bola indah, penuh kreativitas dan kegembiraan, pernah menjadi ciri khas yang membuat mereka dicintai di seluruh dunia. Kini, keunggulan tersebut tak lagi menjadi monopoli Brasil. Mereka tetap menjadi raksasa, tetapi aura sebagai penjaga "jogo bonito" tak sekuat dulu. Karena itulah, Piala Dunia 2026 memiliki arti yang sangat besar.
Melansir ESPN, Carlo Ancelotti menerima pekerjaan sebagai pelatih Brasil dengan satu target yang sangat jelas: membawa pulang trofi keenam. Pelatih asal Italia itu bahkan menandatangani kontrak hingga Piala Dunia 2030, tetapi dia sadar ukuran keberhasilannya sangat sederhana.
Menang di Piala Dunia berarti sukses. Selain itu, semuanya dianggap kegagalan. Namun, persiapan Brasil menuju turnamen jauh dari kata ideal.
Sebelum Ancelotti datang, Selecao menghabiskan sebagian besar periode kualifikasi dan Copa America bersama dua pelatih lokal yang dianggap belum cukup berpengalaman untuk menangani tim sebesar Brasil. Saat Ancelotti mengambil alih, waktu yang tersedia pun sangat terbatas.
Masalah tak berhenti di situ. Sebelum turnamen dimulai, Brasil sudah kehilangan tiga pemain yang diperkirakan menjadi starter, yakni Rodrygo, Estevao, dan Eder Militao. Kemudian muncul masalah baru dalam laga uji coba melawan Panama. Walaupun menang 6-2, Brasil justru tampil kurang meyakinkan di babak pertama.
Skema empat penyerang favorit Ancelotti ternyata membuat lini tengah terlalu rapuh. Casemiro yang kini berusia 34 tahun dan Bruno Guimaraes sering kalah jumlah ketika lawan menguasai bola.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022