
Kapten Timnas Portugal Cristiano Ronaldo saat menghadapi Kongo di Piala Dunia 2026. (Dok. Instagram/@fifaworldcup)
JawaPos.com - Penampilan timnas Portugal dan Ronaldo kembali menjadi sorotan setelah bermain imbang saat menghadapi Kongo di piala dunia. Bukan karena kalah dalam penguasaan bola atau kesulitan membangun serangan, melainkan karena dominasi yang mereka tunjukkan tidak berbanding lurus dengan ancaman nyata ke gawang lawan.
Berdasar data yang dikutip dari akun X @_kartumerah, timnas Portugal mencatat hampir 800 operan dengan tingkat akurasi mencapai 92 persen. Angka tersebut menunjukkan betapa dominannya Ronaldo dkk dalam mengendalikan bola sepanjang pertandingan piala dunia lawan Kongo.
Namun, statistik impresif timnas Portugal itu justru memunculkan pertanyaan. Apa gunanya penguasaan bola yang sangat tinggi jika tidak mampu menghasilkan cukup peluang berbahaya?
Baca Juga:Joao Neves dan Bruno Fernandes Diserang Fans Ronaldo, Timnas Portugal Diguncang Polemik Internal
Banyak pengamat menilai perdebatan yang selama ini berpusat pada Cristiano Ronaldo mungkin tidak sepenuhnya tepat. Sebagian pihak kerap beranggapan bahwa timnas Portugal kurang memberikan servis kepada sang kapten. Meski ada benarnya, pertandingan melawan Kongo memperlihatkan bahwa persoalan tim ini tampaknya jauh lebih kompleks.
Portugal terlihat nyaman memainkan bola dari kaki ke kaki. Operan pendek terus dilakukan, baik di area tengah maupun lini belakang. Dalam beberapa momen, aliran bola bahkan lebih sering kembali ke belakang dibanding diarahkan ke area berbahaya lawan.
Situasi tersebut membuat ritme permainan Portugal terasa lambat dan mudah dibaca. Kongo pun tidak dipaksa bekerja terlalu keras untuk mempertahankan wilayah. Mereka cukup menjaga disiplin posisi sambil menunggu Portugal melakukan kesalahan atau kehilangan momentum serangan.
Baca Juga:Jose Mourinho Ingin Ubah Struktur Kapten Real Madrid, Kylian Mbappe Disiapkan Jadi Pemimpin Baru
Dalam sepak bola modern, penguasaan bola memang penting. Namun, tim yang benar-benar berbahaya biasanya mampu mengubah dominasi menjadi tekanan.
Mereka tidak hanya mengontrol bola, tetapi juga memaksa lawan merasa terancam setiap kali memasuki sepertiga akhir lapangan. Hal itu yang belum terlihat dari Portugal pada pertandingan tersebut. Mereka mengontrol jalannya laga di atas kertas, tetapi gagal mengendalikan situasi yang sebenarnya menentukan hasil pertandingan.
Minimnya penetrasi, kurangnya pergerakan tanpa bola, serta lambatnya transisi ke area serangan membuat Portugal kesulitan menciptakan peluang. Akibatnya, dominasi yang mereka bangun sepanjang pertandingan terasa kurang efektif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022