Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Juni 2026 | 22.25 WIB

Asal-usul Prestianni Law: Aturan Kontroversial FIFA Mengubah Cara Pemain Berkonfrontasi di Lapangan

Gianluca Prestianni saat berduel dengan Vinicous Junior jadi awal mula Prestianni Law, aturan kontroversial FIFA terkait pemain yang menutupi mulut saat konfrontasi di lapangan. (Instagram @gianlucaa_11) - Image

Gianluca Prestianni saat berduel dengan Vinicous Junior jadi awal mula Prestianni Law, aturan kontroversial FIFA terkait pemain yang menutupi mulut saat konfrontasi di lapangan. (Instagram @gianlucaa_11)

JawaPos.com — Pada Piala Dunia 2026, FIFA mulai menerapkan Prestianni Law setelah Miguel Almirón dari Paraguay mendapat kartu merah saat menutupi mulutnya dalam sebuah konfrontasi di lapangan.

Regulasi yang lahir dari upaya memerangi ujaran diskriminatif itu langsung memicu perdebatan karena wasit dapat menghukum pemain tanpa harus membuktikan secara pasti kata-kata yang diucapkan.

Peraturan tersebut menjadi salah satu kebijakan paling kontroversial yang muncul dalam sepak bola internasional sepanjang 2026.

Di satu sisi FIFA ingin memperkuat perlindungan terhadap pemain dari pelecehan verbal, namun di sisi lain muncul kekhawatiran terkait asas pembuktian dan potensi kesalahan keputusan di lapangan.

Apa Itu Prestianni Law?

Prestianni Law merupakan usulan regulasi yang memungkinkan wasit memberikan hukuman kepada pemain yang sengaja menutupi mulutnya saat beradu argumen dengan lawan.

Tindakan menutupi mulut dianggap sebagai upaya menyembunyikan ucapan yang berpotensi mengandung hinaan, diskriminasi, atau ujaran kebencian.

Selama bertahun-tahun, menutupi mulut dengan tangan atau jersey menjadi pemandangan biasa dalam pertandingan sepak bola. Banyak pemain melakukannya agar percakapan mereka tidak dapat dibaca kamera maupun ahli pembaca gerak bibir.

Masalah muncul ketika terjadi dugaan penghinaan rasial, homofobik, atau bentuk pelecehan lainnya. Ketika mulut tertutup, otoritas disiplin kesulitan memperoleh bukti yang cukup untuk memastikan apa yang sebenarnya diucapkan.

Akibatnya, investigasi pascapertandingan sering bergantung pada kesaksian pemain, laporan wasit, dan interpretasi rekaman video yang tidak lengkap.

Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian dan membuat proses penegakan disiplin menjadi lebih rumit.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore