JawaPos Radar | Iklan Jitu

Sepanjang Tahun 2018 Terjadi Kasus Soal e-KTP, Ini Daftarnya

11 Desember 2018, 15:57:23 WIB
e-KTP
Ilustrasi: seorang warga sedang menunjukkan hasil e-KTP yang telah dicetak (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sepanjang tahun 2018 ini setidaknya empat kali masyarakat heboh dengan permasalahkan e-KTP. Masalah itu mulai dari tercecernya e-KTP di tiga kota, hingga soal penjualan blanko.

Ketua Komisi II DPR, Zainuddin Amali mengatakan, kasus tercecernya e-KTP yang terbaru di kawasan Pondok Kopi harus menjadi perhatian Kementerian Dalam Negeri.

"Kemendagri untuk mengawasi betul tentang peredaran e-KTP, apalagi kalau terindikasi dan diperjualbelikan," kata Amali saat dihubungi, Selasa (11/12).

Menurut Amali, adanya kasus ini menimbulkan keresahan. Pasalnya ada pihak-pihak yang menduga kasus tercecernya e-KTP ini untuk kecurangan di Pemilu 2019 mendatang. Mengingat kasus itu berdekatan dengan Pileg dan Pilpres pada April 2019.

"Karena ada yang mengkait-kaitkan potensi kecurangan untuk Pemilu. Meski kami yakin tidak ada kecurangan karena ada tanda khusus e-KTP yang asli dan palsu," ungkapnya.

JawaPos.com pun mengumpulkan data-data kasus tercecernya e-KTP dan juga penjualan blanko kartu identitas tersebut.

1. e-KTP terceceri di ‎Bogor

Pada 26 Mei 2018, ribuan e-KTP tercecer di Simpang Salabenda, Desa Parakansalak, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kejadian tercecernya e-KTP itu lantaran terjatuh dari truk, hingga akhirnya ditemukan warga setempat.

Dirjen Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Zudan Arif Fakrullih mengatakan e-KTP yang tercecer itu jumlahnya sekira 6.000. Semua e-KTP yang tercecer tersebut telah rusak secara fisik, misalnya terkelupas, data tidak lengkap, salah nama dan sobek.

‎2. Ribuan e-KTP tercecer di tempat pembuangan sampah di Serang, Banten

Pada 11 September 2018, e-KTP dan sembilan kartu keluarga (KK) ditemukan tercecer di tempat pembuangan sampah dan semak di Desa Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Totalnya ada 2.901 lembar e-KTP yang ditemukan warga.

Adapun 2.901 yang tercecer adalah 513 KTP manual alias masih belum e-KTP, kemudian 111 e-KTP yang rusah secara fisik.

Kala itu Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo langsung membuat instruksi supaya e-KTP yang telah rusak dilakukan pemotongan. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kecurigaan e-KTP itu digunakan untuk pemilu.

‎3. Penjualan blanko e-KTP secara online

Pada 6 Desember 2018, Kementerian Dalam Negeri menemukan praktik penjualan blanko e-KTP yang dilakukan secara online. Si penjual diketahui adalah anak pejabat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Provinsi Lampung.

Dirjen Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Zudan Arif Fakrulloh mengaku anak mantan pejabat tersebut menjual blanko e-KTP hanya iseng. Dia menegaskan tidak ada pencurian dan jebolnya sistem di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Penjualan itu tidak terkait dengan pemilu, dan anak tersebut menjual 10 blanko e-KTP dengan harga Rp 500 ribu. Saat ini pelaku telah dilaporkan ke pihak kepolisian yang didiga melanggar Pasal 96 UU Nomor 24/2013 tentang Administrasi Kependudukan. Acaman pidananya pun paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

4. Ribuan e-KTP ditemukan tercecer di Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta

Pada 8 Desember 2018, ribuan e-KTP ditemukan tercecer di area persawahan kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kartu e-KTP ini tercecer dan sempat dimainkan anak-anak sebelum akhirnya diketahui oleh Ketua RW setempat.

Dilihat dari domisili pada identitas e-KTP tersebut, tercantum alamat Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, kelurahan yang sebenarnya tidak begitu jauh dari Pondok Kopi.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta Dhany Sukma mengatakan, e-KTP yang ditemukan di Pondok Kopi merupakan cetakan lama.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : (gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini