
Ilustrasi kekeringan musim kemarau.
JawaPos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih panjang dan lebih panas dari biasanya. Prediksi ini dinilai sebagai alarm penting yang harus disikapi secara serius oleh pemerintah.
BMKG juga memberi sinyal bahwa sifat musim kemarau pada 2026 di Indonesia akan lebih kering dari kondisi normal, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi V DPR RI, Sofwan Ardyanto, menegaskan bahwa informasi dari BMKG wajib ditindaklanjuti oleh kementerian dan lembaga teknis sebagai panduan dalam menyusun langkah-langkah mitigasi.
“Ini bukan alarm biasa. Ini alarm serius yang tidak bisa ditanggapi secara normatif dan dimitigasi dengan pendekatan normal,” kata Sofwan kepada wartawan, Minggu (8/3).
Karena itu, ia meminta pemerintah pusat, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU), meninjau kembali prioritas program pada tahun anggaran 2026, terutama dalam menghadapi potensi bencana kekeringan.
“Apakah program yang disusun sudah berorientasi pada mitigasi tanggap bencana kekeringan, seperti alarm yang disampaikan BMKG?” tegasnya.
Sofwan mengingatkan, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air telah mengatur pengelolaan sumber daya air, termasuk pengendalian daya rusak air seperti kekeringan, guna menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
Selain itu, Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2023 tentang Kebijakan Nasional Sumber Daya Air juga menegaskan pentingnya peningkatan konservasi serta pengendalian risiko terkait air, termasuk bencana kekeringan.
“Saya mengingatkan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PU untuk lebih awal melakukan perencanaan dan mitigasi potensi bencana kekeringan tahun 2026,” ujarnya.
Secara regulasi, Sofwan menyebut terdapat tiga langkah mitigasi yang perlu diperkuat oleh Kementerian PU melalui Ditjen Sumber Daya Air.
Pertama, memperbanyak program pembangunan sumur bor baru, melakukan operasi dan pemeliharaan sumur bor yang kinerjanya menurun, serta merehabilitasi sumur bor lama di wilayah yang diprediksi paling terdampak.
Kedua, memfokuskan program pada optimalisasi fungsi tampungan air pada bendungan, situ, embung, dan danau.
Ketiga, untuk mengantisipasi kekeringan di lahan pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) diminta lebih peka terhadap kondisi daerahnya dengan terus memonitor bendungan berdasarkan data BMKG secara berkala.
“Jangan sampai menjaga ketersediaan air di bendungan, tetapi wilayah hilir justru mengalami kekeringan,” tuturnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
