
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham menggelar konferensi pers di kantor IMC, Jakarta, Selasa (28/10). (Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengingatkan agar narasi politik tendensius dan bernuansa anti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak berkembang liar hingga berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Ia tidak menginginkan, terjadi kegaduhan politik dari pernyataan tokoh publik yang tidak utuh atau multitafsir.
“Indonesia tidak boleh masuk ke jebakan yang sama. Kita harus belajar dari pengalaman global bahwa instabilitas sering berawal dari narasi kontraproduktif yang tidak bertanggung jawab,” kata Idrus di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (6/4).
Sorotan publik mencuat setelah pernyataan Islah Bahrawi yang menyebut adanya penurunan kapasitas kognitif Presiden Prabowo. Dalam pandangannya, kondisi kepemimpinan nasional saat ini dinilai menjadi sumber berbagai persoalan, termasuk munculnya rasa takut dan tekanan di tengah masyarakat. Ia pun menilai perubahan kepemimpinan sebagai solusi.
Di sisi lain, pernyataan Syaiful Mujani yang dianggap menyinggung isu penjatuhan presiden turut memperkeruh situasi. Meski Syaiful telah membantah dan menyebut pernyataannya dipotong dari konteks, perdebatan di publik telanjur melebar.
Karena itu, Idrus menekankan persoalan ini bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan menyangkut etika komunikasi politik di ruang publik. Ia menilai bahwa sebagai intelektual, setiap pernyataan seharusnya mempertimbangkan dampak sosial dan politik yang lebih luas.
“Dalam konteks politik yang dinamis, narasi seperti itu bisa ditafsirkan liar. Ini bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.
Idrus menegaskan, demokrasi Indonesia memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam proses pergantian kekuasaan. Karen itu, ia mengingatkan isu pemakzulan presiden tidak bisa dibangun dari opini atau spekulasi semata.
“Pemakzulan itu proses serius. Ada tahapan konstitusional yang panjang, melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR. Tidak bisa digiring lewat opini publik atau narasi tidak utuh yang provokatif,” tegasnya.
Lebih lanjut, Idrus menyoroti realitas komunikasi publik saat ini, di mana informasi yang tidak utuh, dipotong, atau disampaikan secara provokatif dapat membentuk persepsi publik secara bias. Hal ini berpotensi mempercepat polarisasi dan merusak kepercayaan terhadap institusi demokrasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022