
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Pidato kenegaraan dan nota keuangan Presiden Prabowo Subianto di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Jumat (14/8) menuai sorotan dari sejumlah akademisi. Berbagai program yang disampaikan oleh presiden dalam kesempatan itu dipertanyakan.
Sorotan tersebut disampaikan oleh akademisi yang tergabung dalam Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD) melalui keterangan resmi pada Sabtu (15/8). Mereka menyatakan bahwa lebih banyak klaim sepihak yang disampaikan ketimbang laporan yang dapat dipertanggungjawabkan.
”Dalam pidato disebutkan telah mendirikan 10 ribu koperasi desa dalam waktu singkat menuju 30 ribu. Lalu kalau sudah berdiri, apa artinya? Disebutkan berurutan seolah-olah keberhasilan, padahal belum tentu ada hubungannya,” ucap Asfinawati.
Salah seorang akademsi yang tergabung dalam FIAD itu menyayangkan karena Presiden Prabowo tidak menyinggung soal kualitas program yang sudah berjalan. Pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera itu menyebut, retorika presiden yang menggarisbawahi perlindungan bagi rakyat tidak bersesuaian dengan fakta.
Menurut Asfin, dalam kepemimpinan Prabowo ada ribuan orang ditangkap dan diadili setelah berunjuk rasa. Lewat keterangan yang sama, Sulistyowati Irianto menyampaikan bahwa pidato presiden tidak secara utuh membicarakan berbagai masalah yang terjadi dalam 2 tahun terakhir.
Guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu menyangsikan metoda pengambilan data dan pemilihan fakta yang diungkap dalam pidato. Hal senada disampaikan oleh Bivitri Susanti. Dia menyebut ada berbagai klaim dengan statistik yang dipaparkan dalam pidato presiden.
Menurut dia, klaim tersebut wajib hukumnya untuk dilakukan fact checking atau dibandingkan dengan realita. Berbagai klaim itu, kata Bivitri, menggambarkan model penyusunan kebijakan yang FIAD kritisi selama ini. Yakni melemahnya peran ilmu pengetahuan dalam pengambilan keputusan publik.
”Misalnya, banyak sekali klaim proyek Makan Bergizi Gratis sukses besar, tanpa dicek terlebih dahulu soal masalah yang ditimbulkan,” ujarnya.
Masalah yang dimaksud oleh Bivitri terdiri atas persoalan dalam pengelolaan program, korupsi, sampai keracunan makanan sekitar 40 ribu anak. Selain itu, dia menyorot klaim tentang swasembada. Menurut dia, swasembada yang disebut oleh prabowo tidak lantas mengatasi persoalan stabilitas harga pangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022