
Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, usai bersilaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (24/10) siang. (Radar Solo)
JawaPos.com - Ketua DPD Gerakan Mahasiswa dan Pelajar Kebangsaan (GMPK) DKI Jakarta, Asep Irama yang akrab disapa Bung AIR, mengkritik tajam pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi terkait kemungkinan terjadinya percepatan dinamika politik sebelum Pemilu 2029.
Bung AIR menilai pernyataan tersebut tidak semestinya dilempar ke ruang publik tanpa penjelasan yang terang mengenai dasar konstitusionalnya. Menurutnya, pembicaraan mengenai percepatan pergantian kekuasaan bukan sekadar wacana politik, karena menyangkut pemerintahan yang lahir dari proses demokrasi dan mandat rakyat.
“GMPK DKI berpandangan bahwa pergantian kekuasaan tidak boleh ditentukan oleh insting politik, spekulasi elite, atau kepentingan kelompok tertentu. Indonesia adalah negara hukum. Ada konstitusi dan mekanisme demokrasi yang harus dihormati,” kata Bung AIR lewat keterangannya, Rabu (26/8).
Ketua DPD Gerakan Mahasiswa dan Pelajar Kebangsaan (GMPK) DKI Jakarta, Asep Irama. (Istimewa)
Ia menilai istilah dan narasi mengenai kemungkinan terjadinya perubahan politik sebelum 2029 berpotensi menimbulkan tafsir yang liar di tengah masyarakat. Terlebih, pernyataan tersebut disampaikan oleh figur yang memiliki posisi penting dalam organisasi yang selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya.
“Kalau ada kebijakan pemerintah yang dianggap keliru, silakan dikritik. Kalau ada yang perlu diperbaiki, silakan dikoreksi. Tetapi jangan mencampuradukkan kritik terhadap kebijakan dengan wacana pergantian kekuasaan,” tegasnya.
Bung AIR menegaskan bahwa GMPK DKI berkomitmen mengawal pemerintahan yang sah dan konstitusional. Komitmen tersebut, kata dia, bukan berarti GMPK menutup mata terhadap kekurangan pemerintah.
“GMPK tidak pernah mengatakan pemerintah tidak boleh dikritik. Justru pemerintah harus terus diawasi. Tetapi mengawasi berbeda dengan mendelegitimasi. Mengkritik berbeda dengan membangun ketidakpastian politik,” ujarnya.
Menurut Bung AIR, demokrasi membutuhkan kedewasaan semua pihak untuk menghormati hasil pemilu dan masa jabatan pemerintahan yang sedang berjalan.
“Presiden tidak bisa diganti hanya karena ada elite politik yang merasa situasi sedang berubah. Begitu pula pemerintahan tidak boleh diganggu hanya karena ada kelompok yang memiliki kalkulasi politik berbeda. Semua harus kembali kepada konstitusi,” katanya.
Ia juga menilai pernyataan mengenai kemungkinan politik bergerak lebih cepat sebelum waktunya justru dapat mengalihkan perhatian publik dari persoalan yang jauh lebih penting, seperti ekonomi, lapangan pekerjaan, kesejahteraan masyarakat, pendidikan, dan pembangunan nasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Prediksi Skor Lecce vs Roma di Liga Italia: Misi I Giallorossi Curi 3 Poin di Stadio Via del Mare!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Celta Vigo vs Athletic Bilbao: Masih Tumpul, Los Leones Terancam Gagal Menang Lagi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
5 Arti Burung Perkutut Bunyi di Malam Hari, Mitos atau Pertanda Gaib? Simak Maknanya Berikut
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
Pemerintah Tutup Permanen 455 SPPG Karena Tak Penuhi SLHS, Ini Data Rinciannya
