
Rumah yang menggunakan atap asbes. (Freepik)
JawaPos.com - Atap rumah berperan besar dalam melindungi penghuni dari cuaca sekaligus menjaga kenyamanan hunian. Di Indonesia, asbes masih menjadi salah satu material atap yang banyak digunakan karena harganya relatif terjangkau, ringan, dan mudah dipasang.
Namun, seiring meningkatnya literasi konsumen dan perhatian terhadap kesehatan lingkungan, penggunaan asbes juga semakin sering dikaitkan dengan isu keamanan jangka panjang.
Termasuk, di Indonesia, persoalan mengenai bahaya asbes sebagai atap rumah beberapa kali berujung sebagai perseteruan hukum. Namun, perjalanan panjang pelindungan konsumen dari asbes lembaran yang karsinogenik kembali menemukan titik cerah.
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dalam putusan perkara Nomor 400 /Pdt/2025/PT DKI tanggal 17 November 2025 sama sekali tidak mengubah ketidakberlakuan Permendag Nomor 25 Tahun 2021 yang telah diputus Mahkamah Agung (MA) pada Maret 2024.
Dalam putusannya, Hakim PT DKI Jakarta sama sekali tidak menyentuh pokok seteru antara asosiasi industri asbes (FICMA) dengan lembaga pelindungan konsumen (LPLSM) Yasa Nata Budi.
Seteru FICMA dimulai ketika Permendag Nomor 25 tahun 2021 diputus oleh MA bertentangan dengan UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan dinyatakan tidak berlaku.
Hal ini karena Permendag tersebut tidak mengharuskan label dan peringatan barang berbahaya dan beracun (B3) terhadap produk asbes bergelombang dan rata dapat merugikan masyarakat serta konsumen yang menggunakan barang asbes.
Agar kamu tidak salah langkah, penting untuk memahami cara memilih atap asbes yang lebih aman, sekaligus mengenali fungsi label B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) sebagai bentuk perlindungan konsumen.
Mengapa Asbes Perlu Diperlakukan dengan Prinsip Kehati-hatian?
Asbes merupakan mineral berserat alami yang memiliki ketahanan tinggi terhadap panas dan api. Karena karakteristik ini, asbes telah digunakan puluhan tahun dalam industri konstruksi.
Namun, dalam dunia kesehatan lingkungan, asbes juga dikenal sebagai material yang memerlukan pengelolaan ketat, terutama jika seratnya terlepas dan terhirup dalam jangka panjang.
Karena itulah, pendekatan paling rasional bukan sekadar melarang atau membolehkan, melainkan mengedepankan transparansi informasi, pelabelan, dan edukasi konsumen.
Apa Itu Label B3 dan Mengapa Penting untuk Produk Asbes?
Label B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) adalah tanda peringatan yang bertujuan memberi informasi kepada konsumen bahwa suatu produk memiliki potensi risiko jika digunakan atau ditangani tidak sesuai petunjuk, memerlukan kehati-hatian dalam pemasangan, penggunaan, dan pembuangan dan tidak boleh diperlakukan seperti material bangunan biasa tanpa pengaman.
Dalam konteks atap asbes, label B3 bukan berarti produk tersebut dilarang, melainkan berfungsi sebagai alat literasi risiko agar konsumen bisa mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022