Rangkaian proses pembuatan kerangka sepeda dari bambu di bengkel produksi Spedagi.
JawaPos.com - Sejak lama, Eropa menjadi sasaran utama produk-produk Indonesia. Utamanya, seni, kriya, dan fashion.
Kendati ada banyak platform digital yang mampu memangkas jauhnya jarak antara produsen dan konsumen, Benua Biru yang merupakan jendela pasar global tetap tidak mudah ditembus.
Tinggal di Paris selama lebih dari empat dekade, Nina Hanafi banyak belajar tentang pasar Eropa dan pasar global. Apalagi, dia juga mengelola restoran Indonesia di ibu kota Prancis tersebut.
Berjejaring, lelaki yang juga presiden Indonesian Diaspora Network Prancis itu menemukan ada celah yang harus ditambal supaya produk-produk unggulan Indonesia bisa menjumpai pasar global melalui Paris.
”Terkurasi,” ucap Nina di hadapan media pada akhir bulan lalu. Kata itu menjadi syarat mutlak bagi produk-produk Indonesia untuk menembus pasar Eropa, bahkan pasar global.
Selama ini, platform-platform digital yang mempertemukan produsen dan konsumen hanya menjadikan syarat administratif sebagai satu-satunya syarat untuk bisa memasarkan produk. Akibatnya, ketika dilepas ke pasar, tidak ada jaminan bahwa produk-produk itu akan laku.
Sebelum menjumpai konsumennya di pasar, menurut Nina, produk-produk Indonesia harus lebih dulu lolos kurasi. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa ketika masuk pasar, produk-produk itu bakal laris.
Sebab, sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen. Kualitasnya pun bisa diadu dengan produk-produk bermutu dari banyak negara lain.
Mengetahui potensi besar Indonesia sebagai produsen barang seni, kriya, dan fashion; serta kenal banyak kurator kelas dunia, Nina pun berinisiatif membentuk Best of Indonesia (BoI).
”Ini adalah platform yang berfungsi sebagai jembatan berbagai produk, jenama, dan talenta Indonesia yang terkurasi untuk bisa dipamerkan di dunia internasional dan membuka kesempatan bisnis yang luas,” paparnya.
Karena titik beratnya adalah kurasi, Nina tidak main-main soal kuratornya. ”Kekuatan kami adalah tim kurator internasional dengan spesialisasi di berbagai domain. Kami memilih ahli-ahli dalam bidang fashion, interior, arsitek, jurnalis, fine jewellery, maupun chef,” imbuh penulis buku resep Easy Indonesie tersebut.
Tidak hanya produsen, BoI juga mewadahi talenta-talenta terbaik bangsa yang hasil karya dan kreasinya mampu menembus pasar global. Di antaranya, pelukis Eko Nugroho, desainer Edward Hutabarat, dan arsitek Andra Matin.
Para kurator, menurut Nina, tidak sekadar menilai dan mengevaluasi karya para produsen dan talenta.
Lebih dari itu, mereka juga memberikan sumbangsih berupa masukan dan saran serta panduan agar produk dan karya yang dihasilkan punya nilai tambah serta siap bertarung di pasar global.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022