
Mengenang kembali memori pahit Persebaya Surabaya dikandaskan Persib Bandung di final Perserikatan 1989/1990. (persebaya.id)
JawaPos.com — Momen kekalahan dalam dunia sepak bola sering kali menjadi bagian yang tak terlupakan dalam sejarah sebuah klub. Begitu pula dengan Persebaya Surabaya, yang harus menelan pil pahit di final Perserikatan 1989/1990 ketika mereka dikalahkan oleh Persib Bandung dengan skor 2-0.
Pertandingan yang digelar pada Minggu, 11 Maret 1990, di Stadion Utama Senayan (sekarang dikenal sebagai Stadion Utama Gelora Bung Karno) ini menjadi salah satu memori terkelam bagi Green Force — julukan Persebaya.
Pada hari itu, Persib Bandung, yang berjuluk Maung Bandung, tampil sebagai kampiun Divisi Utama Perserikatan musim 1989/1990 dengan performa gemilang.
Kemenangan 2-0 atas Persebaya bukanlah kebetulan semata. Persib Bandung berhasil memanfaatkan setiap peluang. Sementara Persebaya Surabaya, meskipun tampil cukup baik, tidak mampu mengimbangi permainan agresif dan determinasi tinggi yang ditunjukkan oleh anak-anak asuhan pelatih Persib Bandung.
Gol pertama dalam pertandingan tersebut tercipta melalui insiden yang menyakitkan bagi kubu Persebaya Surabaya. Subangkit, bek andalan Green Force, mencetak gol bunuh diri pada menit keenam, membuat Persib Bandung unggul lebih awal. Gol ini membuat mental para pemain Persebaya Surabaya goyah.
Ketika situasi masih belum pulih, Persib Bandung menambah keunggulan pada menit ke-59 lewat sontekan Dedi Risadi yang semakin memperlebar jarak dan menghancurkan harapan Persebaya untuk mengejar ketertinggalan.
Sejak awal pertandingan, terlihat bahwa Persib Bandung datang dengan persiapan matang. Mereka mampu membaca strategi Persebaya dengan sangat baik. Lini pertahanan Persib Bandung yang dikomandoi oleh Robby Darwis, salah satu stopper terbaik Indonesia pada masanya, sukses meredam segala bentuk serangan yang dilancarkan oleh Persebaya Surabaya.
Robby Darwis dan kawan-kawan tampil sangat solid dan disiplin dalam menjaga area pertahanan mereka, membuat Persebaya Surabaya kesulitan menciptakan peluang berbahaya.
Usai pertandingan, Robby Darwis, yang menjadi salah satu pilar kunci Persib Bandung, memberikan komentar terkait kemenangan timnya. Robby Darwis mengakui bahwa Persebaya tampil bagus, namun Persib Bandung lebih beruntung pada hari itu.
“Persebaya masih tampil bagus. Tetapi, lebih bagus saat pertemuan pertama di babak grup. Mungkin juga kami lebih beruntung. Yang penting, saya bersyukur Persib menjadi juara setelah pada putaran sebelumnya terseok-seok,” ujar Robby Darwis, stopper Persib Bandung, dikutip dari koran Jawa Pos edisi 11 Maret 2016.
Pernyataan Robby Darwis tersebut menyiratkan Persib Bandung tidak selalu dalam performa terbaik sepanjang turnamen. Namun, mental juara yang dimiliki Maung Bandung berhasil membawa mereka melewati masa-masa sulit dan tampil impresif di partai-partai krusial, termasuk di final melawan Persebaya.
Persebaya sendiri datang ke final dengan ambisi besar, namun mereka tidak mampu mengatasi tekanan yang diberikan oleh Persib Bandung, khususnya di sektor pertahanan.
Bagi Persebaya Surabaya, kekalahan di final ini jelas meninggalkan luka mendalam. Kekalahan tersebut bukan hanya soal trofi yang melayang, tetapi juga kegagalan untuk membalas kekalahan yang mereka alami di babak penyisihan grup.
Kekalahan di dua pertemuan melawan Persib Bandung pada musim tersebut menunjukkan Persebaya Surabaya masih belum mampu menandingi Persib Bandung dalam hal strategi dan mentalitas di lapangan.
Persebaya Surabaya sebenarnya memiliki banyak momen positif di musim tersebut, tetapi kegagalan mereka di partai puncak menjadi noda yang sulit dihapus. Meskipun mereka tampil impresif di beberapa pertandingan, kelemahan di lini belakang dan kurangnya penyelesaian akhir yang tajam menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka gagal di partai final.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
