Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 September 2024 | 16.32 WIB

Kisah Perjuangan Legenda Persebaya Surabaya Aji Santoso saat Dihentikannya Liga Indonesia 1997/1998, Dampak Krisis Moneter

Aji Santoso ketika masih melatih Persebaya Surabaya di Liga 1 Indonesia 2019-2023. Dia kini menjadi pelatih kepala PSPS Pekanbaru di Liga 2 Indonesia 2024/2025. (persebaya.id) - Image

Aji Santoso ketika masih melatih Persebaya Surabaya di Liga 1 Indonesia 2019-2023. Dia kini menjadi pelatih kepala PSPS Pekanbaru di Liga 2 Indonesia 2024/2025. (persebaya.id)

JawaPos.com — Krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an berdampak luas pada segala aspek kehidupan, termasuk sepak bola. Salah satu yang merasakan langsung dampak dari krisis tersebut adalah legenda Persebaya Surabaya, Aji Santoso.

Ketika Liga Indonesia musim 1997/1998 dihentikan, Aji Santoso yang saat itu masih aktif bermain sebagai kapten Green Force harus menghadapi masa sulit di tengah ketidakpastian, baik dalam karier maupun kehidupan pribadinya.

Persebaya Surabaya saat itu sebenarnya berada di jalur yang tepat untuk mencatat sejarah. Setelah berhasil meraih gelar juara Liga Indonesia musim 1996/1997, tim kebanggaan Bonek ini tampil impresif di musim berikutnya.

Pada pekan ke-14, Persebaya Surabaya berada di puncak klasemen Wilayah Barat dengan koleksi 28 poin, unggul tipis satu poin atas Persija Jakarta yang berada di posisi runner-up. Namun, sayangnya, ketika Persebaya Surabaya sedang di atas angin, kompetisi harus terhenti.

Aji Santoso mengenang betul masa-masa tersebut. "Itu kompetisi sudah hampir separo jalan, tapi statusnya ditiadakan," kenang Aji Santoso dikutip dari koran Jawa Pos edisi 13 April 2020.

Penghentian kompetisi bukan hanya karena krisis moneter, tetapi juga karena gejolak politik yang membuat situasi keamanan tidak kondusif. Sepak bola yang biasanya menjadi hiburan rakyat harus berhenti total, dan pemain-pemain pun dirumahkan.

Sebagai kapten tim, Aji Santoso tidak hanya merasakan beban dari segi karier sepak bolanya yang terhenti sementara, tetapi juga harus memikirkan keluarganya. Di masa itu, kontrak pemain Persebaya Surabaya berakhir seiring dengan terhentinya kompetisi, sehingga tidak ada pemasukan sama sekali. Bagi Aji Santoso, situasi ini adalah ujian tersendiri, terutama karena dia sudah memiliki dua anak yang masih balita.

“Seingat saya kontrak pemain berakhir. Jadi, ya nggak ada pemasukan,” terang pria yang kala aktif bermain berposisi sebagai bek kiri itu.

"Saya hanya mengandalkan uang tabungan untuk kehidupan sehari-hari. Karena sepak bola Indonesia benar-benar berhenti," ungkapnya.

Untungnya, Aji Santoso masih memiliki sisa tabungan dari bonus yang diperolehnya setelah membawa Persebaya Surabaya menjadi juara Liga Indonesia 1996/1997. Meskipun demikian, kehidupan sehari-harinya tetap harus diatur dengan cermat agar bisa bertahan di masa sulit tersebut. "Saya juga benar-benar nggak ada aktivitas sepak bola lagi saat itu. Hanya di rumah saja bersama keluarga," tambahnya.

Selama masa vakum dari sepak bola, Aji Santoso menghabiskan banyak waktu di rumah bersama keluarganya di Kota Malang. Aktivitas sepak bola nyaris tidak ada, dan Aji Santoso mengisi waktu luangnya dengan menekuni hobi barunya, yaitu memelihara burung berkicau.

Hobi ini ternyata menjadi pelarian yang positif di tengah situasi yang tidak menentu. "Waktu itu nggak ada kegiatan lagi. Jadi, saya cuma bisa menyalurkan hobi memelihara burung saja. Selain itu, saya masih sering main tenis," ujarnya.

Ketika musim 1998/1999 kembali bergulir, Aji Santoso dan rekan-rekannya akhirnya bisa menandatangani kontrak baru dengan Persebaya Surabaya. “Kami kemudian melakukan teken kontrak baru dengan klub (Persebaya),” terang Aji Santoso.

Kompetisi kembali berjalan, dan kehidupan sebagai pesepak bola pun perlahan kembali normal. Namun, hobi Aji Santoso dalam memelihara burung berkicau tetap berlanjut hingga kini. Di sela-sela kesibukannya sebagai pelatih, Aji Santoso masih sering merawat koleksi burung-burung berkicaunya di rumah.

Tidak hanya musim 1997/1998 yang membawa kenangan pahit bagi Aji Santoso. Pada tahun 2015, Liga Indonesia kembali dihentikan di tengah jalan, kali ini karena konflik dualisme yang melibatkan PSSI. Meski demikian, Aji Santoso mengaku bahwa situasi saat itu tidak berdampak langsung padanya. “Tapi, saat itu saya tidak kena dampak secara langsung,” ujar Aji Santoso.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore