
Mustaqim ketika mengabdi di Persebaya Surabaya sebagai asisten pelatih Aji Santoso di musim 2020-2023. (Persebaya.id)
JawaPos.com — Sebagai salah satu sosok legenda dalam sejarah Persebaya Surabaya, Mustaqim memiliki banyak kenangan manis selama masa kariernya. Namun, di antara banyak pencapaian, satu momen yang tak akan pernah dilupakan oleh pria asal Surabaya itu adalah ketika berhasil membawa Persebaya Surabaya menjuarai Perserikatan pada 1987-1988. Kemenangan yang diraih 36 tahun lalu itu masih terpatri kuat dalam benak Mustaqim, bahkan hingga hari ini.
Final yang berlangsung di Senayan, kini bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 27 Maret 1988 menjadi saksi bisu sejarah yang ditorehkan Persebaya Surabaya. Menghadapi Persija Jakarta, Green Force—julukan Persebaya Surabaya, berjuang keras hingga mampu meraih kemenangan tipis 3-2. Kemenangan tersebut bukan hanya sekadar mengangkat trofi, tetapi juga menjadi momen yang memperkuat status Persebaya Surabaya sebagai salah satu tim paling berpengaruh di kancah sepak bola nasional.
Salah satu momen paling berkesan dari pertandingan final itu adalah kontribusi langsung dari Mustaqim. Mantan pemain yang dulu mengisi posisi striker tersebut berhasil mencetak satu gol penting dalam masa perpanjangan waktu, yang pada akhirnya menjadi gol penentu kemenangan. Gol tersebut tak hanya mengamankan gelar juara, tetapi juga mengukir nama Mustaqim di jajaran legenda Persebaya Surabaya.
“Saat kali pertama memutuskan untuk menjadi pemain bola, ambisi pertama saya adalah bisa menjadi bagian dari Persebaya,” ujar Mustaqim dikutip dari koran Jawa Pos edisi 28 Februari 20217.
Menurutnya, membawa Persebaya juara adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai. “Jadi, ketika bersama pemain lain sukses membawa Persebaya juara perserikatan (1988, Red), rasa senang pun berlipat. Sebab, saya tak sekadar bergabung. Tetapi juga punya kontribusi membawa tim kebanggaan sebagai kampiun,” tambahnya dengan penuh emosi.
Bagi Mustaqim, Persebaya Surabaya bukan sekadar klub sepak bola. Lebih dari itu, Persebaya Surabaya adalah bagian dari jiwanya. Ikatan emosional yang terjalin antara dirinya dan klub sangatlah kuat. Maka tidak mengherankan jika ia merasa sangat terpukul ketika Persebaya Surabaya sempat "menghilang" dari kancah sepak bola nasional selama empat tahun. Keputusan untuk mengesampingkan klub dari kompetisi tentu membawa dampak yang besar, bukan hanya bagi Mustaqim sebagai legenda klub, tetapi juga bagi seluruh ekosistem sepak bola di Surabaya.
“Saya prihatin. Seharusnya sudah banyak pemain hebat yang lahir selama empat tahun terakhir ini. Tapi, semua menjadi terbengkalai,” kata Mustaqim dengan nada penuh kekecewaan.
Sebagai seseorang yang sangat mencintai Persebaya Surabaya, Mustaqim berharap besar kepada manajemen baru klub. Ia berharap Persebaya Surabaya bisa segera bangkit dan kembali menorehkan prestasi yang membanggakan, baik di level nasional maupun internasional.
“Setelah lama vakum, warga Surabaya saat ini haus sepak bola dan haus gelar. Persebaya harus bisa menjawab dahaga itu,” ujar Mustaqim penuh harap.
Mustaqim juga menekankan bahwa Persebaya Surabaya bukanlah klub sembarangan. Dengan sejarah panjang dan prestasi yang gemilang, Persebaya Surabaya adalah salah satu ikon sepak bola Indonesia.
“Persebaya itu punya nama besar. Semua orang yang ada dalam tim harus bisa mengimbangi nama besar tersebut. Suatu saat, saya juga ingin terlibat di dalamnya,” jelasnya sebelum akhirnya menjadi asisten pelatih Aji Santoso di Persebaya Surabaya musim 2020-2023.
Setelah pensiun dari lapangan hijau, Mustaqim tetap aktif di dunia sepak bola. Ia pernah menjadi asisten pelatih di beberapa klub, termasuk Persik Kediri (2023-2024) dan tentu saja Persebaya Surabaya, di mana ia bekerja sama dengan Aji Santoso.
Bagi Mustaqim, perjalanan karier sepak bola adalah lebih dari sekadar bermain di lapangan. Setiap pertandingan, setiap gol, dan setiap kemenangan adalah bagian dari cerita panjang yang membawa kebanggaan, kebahagiaan, dan kadang-kadang juga rasa sakit. Namun, jika harus memilih satu momen yang paling berkesan, juara Perserikatan 1987-1988 adalah puncak kariernya. Itu adalah pencapaian yang akan terus ia kenang sepanjang hidupnya.
Kini, Mustaqim tetap menjadi sosok yang dihormati di kalangan suporter Persebaya Surabaya. Namanya masih sering disebut-sebut ketika membicarakan masa kejayaan klub. Memori manis juara Perserikatan 1987-1988 akan selalu menjadi bagian dari cerita besar Persebaya Surabaya, dan Mustaqim akan selalu dikenang sebagai salah satu pahlawan yang membawa kebanggaan bagi Green Force.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
