
Stefano Lilipaly. (Dok. Timnas Indonesia)
JawaPos.com-Stefano Lilipaly menghadirkan paradoks menarik dalam skuad Timnas Indonesia era Patrick Kluivert. Di usia 35 tahun, dia menjadi anak baru yang justru paling senior di antara para pemain yang didominasi wajah-wajah muda.
Keputusan Kluivert memanggilnya kembali setelah lama absen bukan tanpa pertimbangan matang sang veteran membawa aset berharga yang sangat dibutuhkan skuad Garuda. Pemanggilan Lilipaly memang mencengangkan banyak kalangan sepak bola Indonesia.
Musim ini, pemain Borneo FC tersebut hanya tampil 24 kali di Liga 1 angka terendah sejak 2019. Bahkan sempat menghilang dari skuad tim selama tujuh pertandingan beruntun.
Namun di balik statistik yang kurang mengesankan, tersimpan nilai-nilai intangible yang tidak bisa diukur dengan angka semata. Antusiasme Lilipaly terhadap panggilan ini terlihat jelas. Dia bahkan menjadi salah satu yang paling awal tiba di Bali untuk mengikuti pemusatan latihan pada Sabtu (24/5) malam.
"Halo Garuda fans, saya sudah di sini, di Sanur. Siap untuk TC di Bali," ucap Lilipaly dalam video di akun resmi @timnasindonesia, memperlihatkan kebanggaan luar biasa bisa kembali berseragam Merah Putih.
Catatan istimewa terukir dalam perjalanan karier Lilipaly bersama Timnas Indonesia. Dia adalah satu-satunya pemain dalam skuad saat ini yang telah merasakan bimbingan enam pelatih berbeda, sebuah pencapaian yang menunjukkan konsistensi dan adaptabilitas luar biasa.
Perjalanan dimulai dari debut perdana di bawah arahan Jacksen F. Tiago pada 2013. Pelatih Brasil itu yang pertama kali membuka pintu internasional bagi pemain berdarah Belanda-Indonesia ini.
Setelah era Jacksen berakhir, giliran Alfred Riedl yang mengasah kemampuan Lilipaly dengan pendekatan disiplin taktis khas Austria. Era Luis Milla kemudian membawa transformasi dengan gaya sepak bola menyerang dan modern, di mana kreativitas serta visi bermain Lilipaly menjadi senjata ampuh.
Simon McMenemy, pelatih berkebangsaan Skotlandia, juga memanfaatkan pengalaman Lilipaly sebagai sosok senior yang bisa memimpin di tengah lapangan. Kemudian datang masa Shin Tae-yong dengan filosofi kedisiplinan fisik dan taktik rapat ala Korea Selatan. Meski ada spekulasi tentang masa depannya, Lilipaly tetap dipercaya, membuktikan kualitas yang tak lekang waktu.
Tahun ini, Patrick Kluivert menjadi pelatih keenam yang memberikan kesempatan kepada Lilipaly. Pengalaman merasakan berbagai filosofi mulai dari pendekatan defensif hingga menyerang, dari disiplin Eropa sampai intensitas Asia, menciptakan perpustakaan pengalaman yang tak ternilai harganya.
Absennya Ragnar Oratmangoen karena kondisi kesehatan menciptakan kekosongan di sayap kiri yang perlu segera diisi. Di sinilah peran Lilipaly menjadi sangat strategis. Dalam dua musim terakhir bersama Borneo FC, dia konsisten bermain sebagai sayap kiri dengan catatan mengesankan. Lebih dari 120 crossing berhasil dan 50 key passes tercipta.
Meskipun secara statistik gol Egy Maulana Vikri lebih mencolok dengan 12 gol musim ini, Lilipaly menawarkan dimensi permainan yang berbeda. Visi bermain yang matang dan kemampuan membaca situasi hasil dari jam terbang bertahun-tahun bisa menjadi kunci membongkar pertahanan rapat lawan.
Satu gol Lilipaly ke gawang Madura United pada 10 Mei, saat comeback setelah absen tujuh pekan, menunjukkan mental juara yang tidak mudah menyerah. Mental seperti ini sangat dibutuhkan Timnas Indonesia yang tengah berjuang keras di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Posisi di peringkat keempat dengan selisih tipis dari pesaing memerlukan pemain yang tahan banting dan tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi situasi sulit. Kehadiran Lilipaly melengkapi formasi trio veteran bersama Thom Haye dan Joey Pelupessy.
Ketiganya adalah pemain berkepala dingin dengan pengalaman internasional yang mumpuni. Kolaborasi sesama pemain berpengalaman ini berpotensi menciptakan chemistry istimewa yang sulit didapat dari para pemain muda.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
