Sejumlah pemain dan ofisial Timnas Indonesia menyanyikan lagu Tanah Airku usai pertandingan melawan Timnas China pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga Grup C di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPo
JawaPos.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Yunus Nusi, angkat bicara mengenai polemik royalti yang menyeret lagu Indonesia Raya dan Tanah Airku setiap Timnas Indonesia bertanding. Aturan itu dianggap hanya bikin gaduh.
Keresahan PSSI ini muncul setelah Timnas Indonesia disebut harus membayar royalti saat mengumandangkan lagu Indonesia Raya hingga Tanah Airku. Kedua lagu itu memang kerap dinyanyikan ketika Garuda bermain.
Indonesia Raya dikumandangkan wajib saat menjelang kick-off. Sementara Tanah Airku dinyanyikan oleh Timnas Indonesia setelah pertandingan dan sudah jadi seperti tradisi.
Menyikapi itu, Yunus Nusi cukup resah dan mengaku merasa janggal dengan aturan royalti tersebut. Sebab, menurutnya, lagu kebangsaan Indonesia Raya maupun Tanah Airku menjadi perekat dan pembangkit nasionalisme, sekaligus memicu rasa patriotisme bagi anak bangsa ketika menyanyikannya.
"Menggema di Stadion GBK dengan puluhan ribu suporter menyanyikan lagu ini, ada yang merinding bahkan ada yang menangis. Itulah nilai-nilai yang terkandung dalam lagu kebangsaan ini," kata Yunus dalam keterangan resminya, dipetik Kamis (14/8).
Menurut Yunus, sang pencipta lagu juga dengan ikhlas memproduksi dan mempersembahkan lagu-lagu tersebut. Terlebih lagu itu tercipta di tengah perjuangan bangsa untuk memerdekakan diri dari belenggu penjajah.
"Kami yakin tidak pernah terbersit di benak sang pencipta bahwa lagu ini kelak harus dibayar bila setiap individu atau elemen mana pun menyanyikannya," kata dia.
"Mereka menciptakan lagu ini dengan tulus, sebagai lagu perjuangan yang ditujukan untuk anak bangsa, tanpa mengharapkan imbalan," tambah Yunus.
Karena itu, Yunus Nusi merasa sudah seharusnya regulasi yang disuarakan oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan Karya Cipta Indonesia (KIC) segera diralat atau dihapus saja. Dia jadi khawatir aturan justru menimbulkan kegaduhan yang berkepanjangan.
"Sebaiknya aturan ini segera dihapus karena berisik, membuat gaduh, dan tidak produktif," jelas Yunus.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
