Marselino Ferdinan akan jadi tumpuan Timnas Indonesia di edisi Piala Dunia 2030. (Instagram @marselinoferdinan10)
JawaPos.com — Timnas Indonesia harus menatap masa depan dengan kepala tegak meski gagal menembus putaran final Piala Dunia 2026. Kekalahan dari Arab Saudi dan Irak di ronde keempat kualifikasi zona Asia menjadi akhir perjalanan Jay Idzes dkk, tapi bukan akhir dari mimpi besar sepak bola nasional.
Piala Dunia 2030 menjadi harapan baru bagi skuad Garuda untuk menebus kegagalan tersebut.
Dengan generasi muda yang terus berkembang, Indonesia punya kesempatan realistis untuk membangun tim yang lebih matang dan kompetitif empat tahun ke depan.
Generasi emas yang kini menghuni skuad Merah-Putih masih berada di usia produktif.
Generasi Emas Timnas Indonesia saat berburu tiket ke Piala Dunia 2030. (Dimas Pradipta/JawaPos)
Nama-nama seperti Maarten Paes, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Kevin Diks, Rizky Ridho, Dean James, Yakob Sayuri, Ole Romeny, Miliano Jonathans, hingga Mauro Zijlstra diyakini bisa menjadi pondasi kuat menuju Piala Dunia 2030.
Sebagian dari mereka masih akan berada di usia emas pada turnamen tersebut. Artinya, Garuda tak perlu membangun dari nol, melainkan memperkuat fondasi yang sudah ada dengan sistem pembinaan dan kontinuitas pelatih yang jelas.
Namun, pekerjaan rumah besar menanti PSSI dan seluruh elemen sepak bola nasional.
Karena sejarah membuktikan, lolos ke Piala Dunia bukan hanya perkara bakat atau naturalisasi pemain, tapi tentang kesinambungan sistem dan budaya sepak bola yang sehat.
Pelatih lokal dan pengamat sepak bola sepakat, generasi emas tanpa sistem hanyalah kilatan sesaat.
“Indonesia baru bisa menembus Piala Dunia 2030 jika memiliki kesinambungan sistem, bukan sekadar generasi emas,” ujar Agam Haris, asisten pelatih Deltras FC kepada JawaPos.com, Kamis (16/10/2025).
Pernyataan Agam menjadi peringatan penting bagi sepak bola Indonesia. Sebab, banyak negara yang berhasil lolos ke Piala Dunia hanya sekali dan kemudian tenggelam tanpa jejak karena tidak punya fondasi yang berkelanjutan.
Contoh konkret bisa dilihat dari Uzbekistan, Yordania, dan Cape Verde. Tiga negara tersebut menjadi teladan bagi tim-tim berkembang yang ingin menembus panggung terbesar sepak bola dunia melalui proses yang terencana.
Uzbekistan sukses karena pembinaan jangka panjang yang konsisten.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
